Selamat datang teman, Kami harap bisa menikmati blog kami. Happy blogging ! .
Cek kembali jika kami sudah selesai dengan ini...
Silahkan Mengisi buku tamu untuk sekedar meninggalkan Jejak.. :)
Peluang bisnis anda

SPACE IKLAN

Space buat promosi halaman atau produk anda, minat hubungi kami..

Selengkapnya...
Title

Ibu Rumah Tangga yang Sukses

Selain Mahasiswa banyak juga loh ibu rumah tangga yang berhasil dengan mengikuti tips bisnis dari mba Dini Santi. Pasti senang bisa bantu ekonomi keluarga. Tetapi perjuangan Mba Dian ini ngga mudah awal-awalnya tp sekarang beliau sudah sukses dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

Yuk lihat cerita sukses lainnya
Title

Tentang Akper IV

Angkatan yang mempunyai Seribu Satu Kisah Sedih, Senang, Susah bersama, saat dimana bisa menangis bersama, saat dimana bisa tersenyum bersama. Mempunyai motto kita selalu beda.

Read More
sukses dan sehat

Blog ini Penggemar Berat DBC-Network

Jelas banget dbc-network udah mengubah hidup saya, jadi melek IT, Dulu muncul pertanyaan gini "Waktu habis untuk ngantor? meeting? Capek di jalan? Tidak punya modal?" Bersama Oriflame di d’BC Network, Anda bisa mulai membangun bisnis dengan segala keterbatasan diatas! TAPI jangan dulu percaya kalo belum membaca kisah suksesnya yah

Kisah Sukses Lainnya

Ultimate Experience at Kangaroo Island

Pagi yang menakjubkan di Napean Bay, Kangaroo Island
Kangaroo Island, pulau di barat daya Adelaide ini dijuluki a zoo without wall-kebun binatang tanpa pagar. Di pulau ini, bukan kami yang harus 'mengunjungi' hewan-hewan khas Australia, tapi mereka yang 'menyapa' dan menghampiri kami.

Kami menyeberang ke Kangaroo Island (KI) dari dermaga Cape Jervis, sekitar dua jam dari Adelaide ke arah selatan. Hanya ada satu layanan feri di sini, dioperasikan oleh Sea Link. Tarif feri yang tidak disubsidi oleh pemerintah memang memberatkan. Bahkan penduduk lokal juga mengeluhkan tarif feri yang mahal ini. Tiket pulang pergi untuk kami berempat (2 dewasa 2 anak) plus satu campervan harganya AUD 424. Semahal tiket pesawat ke luar kota! Tapi gakpapa lah kalau dianggap membeli pengalaman sekali seumur hidup.

Tadinya kami ragu-ragu memasukkan Kangaroo Island ke dalam itinerary. Salah satu alasannya karena mahalnya tiket feri tadi. Alasan lain karena ketatnya jadwal kami. Kalau cuma bisa road trip seminggu, hanya cukup untuk jalan dari Adelaide ke Melbourne, tanpa mampir ke pulau. Tapi setelah Si Ayah konfirmasi bisa jalan 10 hari, kami menyisipkan 3 hari khusus di Kangaroo Island. Kata Si Ayah, mending menghabiskan waktu dan menginap di pulau daripada cuma di kota (Adelaide).

Kami sampai di Cape Jervis menjelang senja, mengejar feri jam 6 sore. Di tepi dermaga, terpampang aturan barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke pulau ini: lebah, madu, kentang, serigala, kelinci dan tanaman tertentu. Peraturan ini tentunya untuk melindungi keanekaragaman hayati di Pulau Kanguru. Tapi, siapa juga ya yang mau membawa serigala? ^_^

Setelah feri datang, saya dan the precils bisa masuk kapal terlebih dahulu. Sementara Si Ayah harus memasukkan sendiri campervan ke dalam feri. Perlu waktu 45 menit untuk menyeberang dari Cape Jervis ke Penneshaw, dermaga di Kangaroo Island. Untungnya laut lumayan tenang, tidak begitu bergejolak. Pihak Sea Link akan membatalkan penyeberangan kalau kondisi laut terlalu berbahaya. Jadi, meskipun sudah booking online, lebih baik menanyakan kepastian berangkat beberapa jam sebelumnya via telpon. Di dalam feri, tidak susah mencari tempat duduk, cukup nyaman plus ada cafe yang menjual kopi, coklat panas dan camilan. Kami tertawa-tawa mengenang perjalanan terakhir kami naik feri dari Tasmania yang sangat tidak sukses: pusing dan mabuk.

Feri Sea Link menurunkan mobil-mobil
Senja di Cape Jervis
Ngopi di dalam feri
Sunrise di Penneshaw
Kami menginap semalam di KI Shores Penneshaw, caravan park terdekat dari dermaga. Sudah malam ketika kami sampai di sana, resepsionis sudah tutup. Kata resepsionis via telpon, kami boleh pilih-pilih tempat sesuka kami, bayarnya besok ketika cek out. Tarif parkir dengan power (listrik) cukup murah, $27 semalam. Kami boleh menggunakan fasilitas yang ada: toilet, kamar mandi, dan air kran untuk mengisi tangki air di campervan.

Malam pertama di campervan berhasil kami lalui dengan selamat :p Pada awalnya kami gedubragan ketika mengubah setting campervan dari tempat duduk menjadi tempat tidur. Hari sudah gelap, koper-koper kami yang banyak membuat ruang di dalam campervan tambah sempit. Akhirnya saya 'membuang' barang bawaan itu keluar dan cuma ditutupi sarung bali (tambah satu lagi kegunaan sarung bali selain alas piknik dan sprei darurat). Susah sekali mencari barang-barang yang kami perlukan, saking paniknya saya jadi lupa barang yang satu ini saya taruh di mana. Begitulah, kekacauan di malam pertama yang patut dikenang :D

Si Ayah adalah morning person, jadi pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan berburu keindahan sunrise di dekat dermaga. Pulangnya dia membawa oleh-oleh foto-foto ciamik yang tidak masuk akal bagi saya (karena tidak pernah bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri :p). Kami sarapan kopi (susu untuk precils) dan roti yang kami beli di Adelaide hari sebelumnya. Setelah itu kami beres-beres, mengisi tangki air dan mengubah setting campervan kembali menjadi tempat duduk. Little A bahkan sempat menyiram bunga-bunga di sekitar caravan park ini :) Baru setelah jam 11 siang kami bisa melanjutkan perjalanan menuju Seal Bay.


Board Walk di Seal Bay
Sea lion yang leyeh-leyeh kekenyangan di pantai

Jalan utama di Kangaroo Island cukup bagus, beraspal mulus. Pulau ini terbentang sepanjang 155 km dari ujung ke ujung. Buku panduan KI yang sangat bagus, lengkap dengan peta yang detil, bisa diunduh di wesbite resmi ini. Meski sudah punya soft file-nya saya masih mengambil buku panduan ini di dermaga Cape Jervis, agar tidak setiap kali menyalakan gadget. Saran tempat-tempat menarik untuk dikunjungi juga saya dapatkan dari buku ini. Tapi saya tidak membuat itinerary ketat, cukup pilih satu atau dua tempat tempat yang wajib mampir, sisanya kalau sempat dan kalau yang lain setuju.

Seal Bay termasuk di daftar yang wajib dikunjungi. Di pantai ini terdapat koloni sea lion terbesar ketiga di Australia, dengan populasi mencapai 1000 ekor. Jenis sea lion yang kami jumpai di sini berbeda dengan sea lion yang kami lihat di Milford Sound, New Zealand. Singa laut Australia warna kulitnya tidak segelap singa laut Selandia Baru, dan tubuhnya relatif lebih besar. Mungkin ada yang masih bingung bedanya anjing laut dan singa laut? Sila baca di blog ini.

Di Seal Bay, kita bisa memilih untuk jalan-jalan sendiri di boardwalk atau ikut guided tour turun ke pantai. Untuk satu keluarga (2 dewasa 2 anak), biaya boardwalk tour $40, sedangkan ditambah guided tour menjadi $80. Kami memilih guided tour sekalian agar lebih dekat dengan singa-singa laut itu. Sebelum tour dimulai pukul 1 siang, kami punya kesempatan untuk jalan-jalan sendiri di boardwalk yang tersedia. Dari sini kami bisa melihat pemandangan seal bay dengan jelas dan mengamati dari jauh tingkah polah singa laut yang kebanyakan leyeh-leyeh di pasir pantai. Waktu itu kami sempat kaget mendengar suara nyaring singa laut yang bersahut-sahutan. Ternyata memang begitu cara mereka berkomunikasi satu sama lain.

Kami ditemani ranger turun ke pantai. Ternyata kami tidak boleh terlalu dekat dengan hewan ini, karena mereka termasuk binatang buas (!). Jarak minimal yang aman adalah 10 meter. Sementara ranger bercerita tentang Australian Sea lion ini, saya harus jagain Little A karena kadang dia punya ketertarikan sendiri, tidak selalu bisa konsentrasi ke tour guide (ya iya lah). Kami dipandu bersama dengan beberapa orang lainnya, sehingga saya harus memastikan Little A tidak ketinggalan dari rombongan. Ternyata di koloni sea lion, yang harus mencari makan adalah yang betina. Mereka akan pergi selama tiga hari untuk mencari makan di laut lepas, dan baru pulang setelahnya untuk memberi makan pada anak-anaknya. Setelah itu mereka bisa leyeh-leyeh sepuasnya, bermandi matahari di pasir pantai. Kami sempat melihat 'atraksi' beberapa singa laut yang pulang dari mencari makan di lautan. Mereka menaiki ombak, meluncur dengan indah dan mendarat di pantai. Lalu mereka berteriak-teriak memanggil keluarganya sambil berjalan lenggak-lenggok menyusuri pantai. Aksi mereka di habitat asalnya ini jauh lebih seru daripada menonton di sirkus atau kebun binatang :)

The Emak di Vivonne Bay
Burung-burung camar di Vivonne Bay


Resident Koala at Vivonne Bay Tourist Park
Kanguru di West KI Caravan Park
Puas di Seal Bay, kami melanjutkan perjalanan ke Vivonne Bay, yang menurut orang lokal merupakan pantai tercakep di Australia :) Masa sih? Saya ingin membuktikan. Sayangnya jalan menuju Vivonne Bay tidak begitu mulus. Dari jalan utama yang beraspal, kami harus berbelok ke kiri melewati jalanan tanah. Campervan kami langsung berontak dan mengeluarkan bunyi-bunyian gemerincing dari laci-laci dapur :p Duh, Si Ayah jadi sewot dan menyetir dengan super pelan dan hati-hati. Kami hampir sampai di ujung pantai, ketika jalanan menukik turun dan naik lagi dengan tajam. Wah, kayaknya tidak cocok untuk dilalui campervan. Saya tidak tahu apakah kondisi jalan memang seperti ini atau kebetulan jalan sedang dalam perbaikan. Akhirnya kami mundur teratur dan berbalik menuju Vivonne Bay Tourist Park yang tidak jauh dari situ. Tourist park ini tidak dijaga. Yang ingin bermalam di sini bisa daftar sendiri dan memasukkan biaya sesuai tarif di kotak. Maklum, penduduk sini jujur semua :p Di sini kami cuma numpang makan siang, dari perbekalan yang ada.

Ketika kami sedang asyik-asyiknya nyemil stroberi, ada dua perempuan paruh baya yang menghampiri,. "Do you speak English?" tanyanya. "Yes, we do," jawab Si Ayah kalem. Ternyata mereka ingin memamerkan seekor koala yang asyik nangkring di pohon. Mereka berdua semangat banget menunjukkan koala itu ke Little A. "This is our personal pet," kata salah satu perempuan itu, yang ternyata memang tinggal di Vivonne Bay. Dia punya cottage yang menghadap laut. Kami melanjutkan ngemil stroberi di bawah pandangan mata si koala.  

Setelah kenyang, kami punya energi lagi untuk turun ke pantai. Ternyata dari tourist park ini kami bisa menyusuri Harriet River yang bermuara di Vivonne Bay. Pantai ini sepi sekali, hanya ada kami dan mas-mas India yang main kayak. Saya berteriak-teriak, melompat-lompat, berjoged dan balapan lari dengan Little A. Puas, hehe. Kami tidak sampai masuk ke air karena pasti dingin sekali di awal musim semi.

Tadinya kami sempat kepikiran untuk bermalam di Vivonne Bay Tourist Park ini  karena tarifnya lumayan murah. Tapi kok serem juga ya kalau malam. Akhirnya kami putuskan menginap di KI West Caravan park. Kami masih harus berjalan ke barat sekitar 35 km lagi, melalui jalan utama. Dalam perjalanan itu saya bertanya-tanya kok belum melihat satu pun kanguru hidup di sini. Padahal harusnya Pulau Kanguru banyak kanguru-nya kan? Yang kami lihat malah beberapa kanguru di tepi jalan, yang mati tergencet mobil. Kejadian kanguru tertabrak mobil ini sering sekali terjadi, di berbagai belahan Australia. Mungkin mereka tidak bisa beradaptasi dalam habitat baru yang dilewati kendaraan bermotor. Saya mengurungkan niat mengutuk jalan tanah yang membuat campervan kami terguncang-guncang. Kalau semua jalan dilapis aspal, dan semua mobil melaju kencang, pasti bakal lebih banyak lagi kanguru yang mati.

Pertanyaan saya terjawab dengan sendirinya, lima kilometer sebelum caravan park yang kami tuju, banyak sekali kanguru yang berkeliaran di tepi-tepi jalan. Ada yang sedang bercanda dengan teman-temannya, melompat-lompat atau yang cuma leyeh-leyeh sambil menatap heran ke campervan kami. Si Ayah harus mengemudikan kendaraan dengan pelan-pelan sekali agar tidak menabrak mereka yang tentu tidak memberi tanda kalau ingin menyeberang. Daerah ini disebut Hanson Bay Sanctuary, di ujungnya ada penginapan yang mewah banget: Southern Ocean Lodge. Untuk menginap di sini kita perlu merogoh kocek sebesar AUD 1200 per orang per malam. Wah, kalau The Emak nunggu ada yang mengundang gratis aja :p Saya sebenarnya penasaran dengan Hanson Bay Sanctuary ini, tapi hari sudah sore dan Si Ayah tidak ingin kami kemalaman lagi cek in di caravan park. Ya udah saya menurut sambil memikirkan cara bertemu langsung dengan kanguru-kanguru liar itu.

Tarif menginap semalam di KI West Caravan park ini $40. Lebih mahal memang, karena ada resepsionis yang jaga 24 jam. Kami yang belum terlalu lapar hanya makan malam dengan segelas coklat panas ditemani pie daging dan keju. Sambil makan, Little A dan Si Ayah bermain dengan iPad. Tiba-tiba, ada tamu tak diundang yang menghampiri campervan kami, dengan melompat! Betul, ada dua ekor kanguru yang menyapa kami. Yang satu kecil, tapi masih lebih tinggi daripada Little A, satunya lagi cukup besar, hampir setinggi saya. Duh, kami langsung menyelamatkan makanan dan masuk ke dalam campervan. Saya takut kena tinju kanguru ini. Mereka kabarnya memang jago bertinju, orang dewasa bisa pingsan kalau kena tinju kanguru. Kami deg-degan tapi excited dengan tamu-tamu ini. Ternyata mereka cuma mau mengunyah bunga-bunga dari pohon di dekat campervan kami. Si Ayah akhirnya bisa mengabadikan kanguru ini, meski tidak begitu fokus karena hari sudah beranjak gelap. Saya melihat mata Little A berkilat-kilat dengan keingintahuan sekaligus rasa cemas, mengamati kanguru yang mampir untuk menikmati makan malamnya. Ah, mungkin bukan mereka yang menjadi tamu kami. Keluarga kami lah yang berkunjung ke habitat mereka :)

Pagi hari kami dibangunkan suara kalkun yang berkokok dengan berisik. Kami bangun dengan lebih segar, karena sudah semakin ahli dan semakin cepat membongkar pasang campervan. Setelah mandi shower dengan air hangat di kamar mandi umum, saya menyiapkan sarapan istimewa: nasi sosis dengan lalap! The Precils makan dengan lahap, meski beberapa kali harus menghalau bebek-bebek liar yang menghampiri dan minta jatah makan :D

Setelah cek out, kami berkendara ke arah utara melalui jalan utama. Sebenarnya masih ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi di bagian barat pulau ini, di antaranya Remarkable Rocks dan Admirals Arch yang menjadi ikon Kangaroo Island. Sayangnya kami tidak punya banyak waktu. Lagipula, the precils pasti tidak begitu suka diajak melihat batu-batuan :p Sebagai gantinya, kami menuju Parndana Wildlife Park, kebun binatang yang ada di tengah-tengah pulau.

Konsep kebun binatang ini mirip dengan yang pernah kami singgahi di Sydney: Featherdale Wildlife Park. Pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan hewan-hewan yang ada. Saya dan Little A mencoba memberi makan kanguru, tapi kami memilih yang paling kecil dan jinak :) Lalu kami berkeliling melihat-lihat hewan yang lain. Saya tidak begitu suka dengan kebun binatang ini karena toh kami sudah melihat dan malah didatangi oleh hewan-hewan khas Australia di habitat asalnya. Tapi sepertinya Si Ayah menikmati koleksi burung-burung langka di sini. Dan memang koleksi burungnya bagus-bagus. Yang paling lumayan adalah aviary-nya. Kita bisa berinteraksi langsung di ruangan besar berisi burung-burung berbulu indah yang berkicau. 

burung biru yang kesepian
Si Ayah berpose di depan hamparan bunga canola
lebah-lebah di sarangnya
Big A nyobain semua rasa madu organik :)
Setelah mampir sejenak di kota (sangat) kecil Parndana untuk membeli camilan, kami langsung berkendara ke ujung timur lagi. Kingscote, tujuan kami, adalah ibukota dari Kangaroo Island. Sampai di sini, saya ingin makan siang yang pantas istimewa, sekali-kali ke restoran lah :p Sebenarnya saya ingin makan fish & chips yang katanya terenak di pulau ini, tapi sayangnya tidak menemukan restorannya. Atau mungkin saya yang salah sangka, mengira fish & chips itu warung di pinggir jalan, tapi ternyata yang ada adalah restoran yang tampaknya mewah. Duh, sebelum banyak dolar melayang, kami melipir ke kafe yang menyajikan makanan Mexico, yang review-nya lumayan bagus di Trip Advisor: Yellow Ash & Chilli. Di kafe yang interiornya warna-warni ini kami memesan Nachos dan Quesadilla (isi mushroom untuk The Emak dan isi keju untuk precils). Makanannya enak, pelayanan bagus, meskipun agak lama, dan tempatnya menyenangkan. Mereka memberi Little A kertas dan crayon untuk corat-coret sementara menunggu. Mereka juga punya toilet yang bersih banget.

Akhirnya cita-cita The Emak makan siang mewah (untuk ukuran Si Ayah) kesampaian juga :D Saya ingat ketika memarkir campervan di depan resto ini, ada penduduk lokal yang menyapa, menanyakan kami dari mana. Setelah tahu kami dari Indonesia, dia bilang, "Ah, I remember when your tall ship, de-wa ru-tji (?) visited this island in 1970. I got the autographs from all of the crews, and keep them until now." Wow, saya jadi mencari-cari berita tentang pelayaran kapal Dewaruci, dan memang pada tahun 1970, mereka berlayar dari Surabaya - Fremantle - Melbourne - Sydney - Brisbane - Townsville - Ambon - Jakarta - Surabaya. Mestinya memang mampir di Kangaroo Island ketika berlayar dari Fremantle (Perth) ke Melbourne. Kami tidak sempat ngobrol lebih lanjut, dan akhirnya dia bilang, "Enjoy Kangaroo Island."

Perhentian selanjutnya adalah Island Beehive, produsen madu organik di Kangaroo Island. Di sini kita bisa mencicipi segala jenis madu organik yang mereka produksi, melihat lebah-lebah di sarangnya dan tentu saja berbelanja. Madu di Australia sangat terjamin kualitasnya, tidak ada yang dicampur-campur dengan bahan lain. Dari semua madu yang pernah saya cicipi, madu organik asli Kangaroo Island ini yang paling enak.Little A paling suka madu dari bunga sugar gum yang memang paling manis. Kami membeli beberapa botol kecil untuk oleh-oleh dan nantinya berguna juga sebagai olesan pancake dalam road trip ini.

Sunrise di Nepean Bay
Pantai pribadi - Nepean Bay
Pertigaan nan sepi di Kangaroo Island

Malam ketiga atau terakhir di Kangaroo Island ini, kami menginap di Bronlow Tourist Park dengan tarif $45 per malam. Dari seluruh pulau, hanya Kingscote yang memiliki layanan internet. Kami pun membeli voucher $5 untuk 2 jam internet, tapi koneksinya tidak begitu bagus. Cukupan lah untuk melihat-lihat email dan memberi kabar ke keluarga lewat Facebook :)

Tourist park yang satu ini dekat sekali dengan pantai yang ombaknya kalem, atau bisa dibilang tidak ada ombaknya: Nepean Bay. Tinggal berjalan kaki 50 meter. Kami rencananya ingin melihat Pelican Feeding di Kingscote jetty, tapi akhirnya membatalkan rencana itu dan sebagai gantinya main-main air di Nepean Bay. Kalau sudah sampai di caravan park, rasanya memang malas keluar lagi, karena harus membawa serta 'rumah' kami. Little A senang sekali main-main air di pantai yang sepi banget ini, meskipun airnya dingin. Hanya ada dua orang yang jogging melintasi pantai. Tadinya saya agak menyesal batal melihat atraksi memberi makan Pelican, hewan khas di Kingscote. Tapi begitu saya selesai memikirkan penyesalan saya itu, seekor pelican meluncur dengan anggun di atas air, mendekati Little A yang semakin lama semakin ke tengah. Terbukti sekali lagi kalau di pulau ini, hewan-hewan yang menghampiri kita :)

Pagi harinya, Si Ayah menggoyang-goyangkan tubuh saya yang masih meringkuk di kantong tidur."Mau ikut nggak? Aku mau motret sunrise di pantai." Tumben Si Ayah ngajak-ngajak, biasanya dia langsung pergi karena saya susah sekali bangun pagi. Saya sudah mau pergi, tapi begitu kulit saya menyentuh udara pagi hari yang menggigit tulang, langsung saya meringkuk di kantung tidur lagi. Saya tidak sadar kalau pagi itu saya melewatkan sunrise paling menakjubkan yang pernah dilihat Si Ayah, si pemburu sunrise-sunrise cantik. Ketika kami ngopi, dia bercerita magical sunrise moment-nya. Langit memerah, dan hanya ada dia di sana, ditemani beberapa ekor pelican dan burung-burung camar. Saya cuma bisa melongo melihat foto-foto ajaibnya.

Pagi itu kami harus kembali ke mainland Australia, menumpang feri pukul 10.30 pagi. Belum puas rasanya jalan-jalan di pulau ini. Tapi setidaknya kami membawa pulang beberapa kenangan, dan terutama kisah menarik untuk diceritakan.

~ The Emak Baca Selengkapnya...

BAYI DAN ANAK TERSEDAK



A. PENGERTIAN
Tersedak adalah kejadian yang sangat serius dan mengancam kehidupan. Bila bayi mulai tersedak atau mengalami kesulitan bernafas, diperlukan tindakan yang segera. Tersedak menyebabkan jalan nafas tersumbat, bayi tidak dapat menangis atau bersuara. Bila bayi batuk, tampak merah muda dan dapat bersuara maka tidak ada tindakan yang perlu dilakukan (Wong, 2003)

B. ETIOLOGI
Penyebab bayi atau anak tersedak antara lain: makanan/ minuman (seperti: permen, kacang, anggur, hot dogs, jagung, susu), benda-benda kecil (seperti: kacang, biji-bijian), mainan kecil (seperti: koin, kelereng), dan bedak tebur (wong, 1999).

C. PERAWATAN BAYI DAN ANAK TERSEDAK
Perawatan pada bayi dan anak tersedak adalah:
1.       Bayi sadar
a.    Perhatikan bayi untuk mengetahui apakah ia mengalami kesulitan bernafas
b.    Bila bayi tidak bernafas, lakukan tindakan ini dengan segera:
Ø Posisikan bayi menelungkup diatas lengan bawah. Pegang kepala dan leher bayi dengan kuat menggunakan satu tangan. Bila bayi besar, dapat disokong berat badannya diatas paha.
Ø Beri lima sentakan cepat diantara dua belikat bayi dengan telapak tangan

 
 c.     Bila tindakan ini tidak mengeluarkan benda asing tersebut, berikan lima sentakan di dada:
Ø Tarik garis imajinasi yang menghubungkan kedua puting bayi
Ø Tempatkan jari pada tulang dada, selebar satu jari  dibawah garis imajinasi
Ø Dengan telunjuk dan jari tengah, beri dorongan lurus ke bawah pada tulang dada sedalam 1,25 sampai 2,5 cm
 
d.    Ulangi langkah b dan c sampai jalan nafas bersih dan bayi mulai bernafas atau bayi menjadi tidak sadar. Bila bayi menjadi tidak sadar, hubungi nomor telepon darurat segera.

2.       Bayi menjadi tidak sadar
a.    Bila bayi menjadi tidak sadar, tempatkan bayi dipermukaan bayi dipermukaan datar yang keras dan cari bantuan.
b.    Periksa bagian dalam mulut bayi untuk melihat apakiah ada benda asing didalamnya
c.     Buka mulut bayi dengan ibu jari dan jari-jari anda untuk memegang lidah dan rahang bawah dan tengadah denga perlahan.

d.    Bila anda melihat adanya benda asing, lakukan penyapuan dengan jari. Hati-hati agar tidak mendorongnya lebih jauh kedalam tenggorok. Bila tidak ada benda asing yang terlihat, jangan membersihkan mulut.
 
e.    Bila bayi juga tidak bernafas, posisikan kepala bayi dengan tepat dan buka jalan nafasnya.
  f.     Jika terjadi muntah, bersihkan dulu mulut anak sebelum anda memberi nafas buatan.
g.    Lakukan RJP (RJP)

3.       Bila anak sadar dan dapat duduk dan berdiri
a.    Tanyakan pada anak apakah ia tersedak. Periksa apakah ia dapat berbicara atau bersuara. Bila anak tidak dapat bersuara, lakukan tindakan kedaruratan.
b.    Berdiri atau berlutut dibelakang anak
c.     Lingkarkan kedua tangan anda pada pinggang anak. Kapalkan satu tangan anda.
d.    Tempatkan kepalan tangan anda dengan kekeuatan cukup. Teruskan sentakan sambil meminta bantuan.
e.    Lanjutkan tindakan sampai objek keluar dan bantuan tiba. Bila anak menjadi tidak sadar hubungi telpon kedaruratan.
 

4.       Bila anak berbaring
Ø Bila anak berada dilantai tanyakan apakah anak baik-baik saja. Bila anak tidak dapat bicara tempatkan anak telentang pada permukaan datar.
Ø Berlutut di lantai pada bagian kaki anak. Pada anak yang lebih besar anda dapat menunggangi kedua kakinya.
Ø Tempatkan telapak satu tangan pada abdomen anak tepat dibawah pusar. Pastikan anda menempatkan tangan dengan benar dibawah tulang dada anak.
Ø Tempatkan tangan anda yang lain diatas tangan anda yang pertama dan tekan abdomen anak dengan sentakan cepat.
Ø Ulangi sentakan sampai objek keluar atau anak menjadi tidak sadar. Bila anak tidak sadar hubungi telepon kedaruratan.

 


DAFTAR PUSTAKA
Krisyanty. Paula Ns, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat.  Jakarata : TIM
Baca Selengkapnya...

PENATALAKSANAAN HIPERTENSI TERKINI

J.PUDJI RAHARDJO

PENDAHULUAN

Terapi hipertensi sampai saat ini belum memuaskan, karena seperti dilaporkan oleh penelitian NHANES (1991-1994) di USA yang fasilitas pelayanan kesehatannya demikian "baik" dibandingkan negara lain terutama negara berkembang, hasil terapi baru mencapai kurang dari 30% yang terkendali, meskipun ada kemajuan dibanding tahun 70-an. Perubahan panduan (guidelines) tatalaksana hipertensi oleh karena itu selalu terjadi setelah pengalaman klinik (randomized clinical trials) menunjukkan hasil terapi yang bermakna, atau setelah penelitian lapangan menghasilkan data yang kurang memuaskan, seperti JNC VI, karena JNC V justru menyebabkan hasil terapi hipertensi kurang berhasil.
PENELITIAN LAPANGAN NHANES Melaporkan bahwa terhadap hipertensi, kewaspadaan (awareness), berobat (treatment), dan terkendali (controlled) dari akhir tahun 70-an (NHANES II), ke akhir 80-an (NHANES III fase1) sampai awal tahun 90-an (NHANES III phase 2) telah mengalami kemajuan atau peningkatan.
Kewaspadaan dari 51%, menjadi 73% dan 68,4%, berobat dari 31%, menjadi 55% dan 53,6%, serta terkendali dari 10% menjadi 29% dan 27,4%, menunjukkan bahwa setelah panduan JNC V tidak didapatkan kemajuan yang berarti dalam terapi hipertensi di USA. Maka tidak sampai lima tahun panduan lama (JNC V) berlaku tahun 1997 segera dibuat panduan baru (JNC VI) pada 1997 yang segera diikuti lain-lain perhimpunan hipertensi seperti WHO/ISH (1999), BHS (1999), dsb.



BISNIS ONLINE MODAL Rp.10.000 Penghasilan Jutaan !! Mungkinkah?? Klik disini


PANDUAN TATALAKSANA HIPERTENSI MENURUT JNC VI
Perubahan yang mendasar pada JNC VI dalam terapi hipertensi yang perlu diperhatikan adalah :
1. a). Beda dalam nilai klasifikasi serta nama golongan hipertensi, ada golongan optimal, normal, dan normal tinggi pada kelompok non-hipertensi, dan derajat (grade) 1, 2 dan 3 pada kelompok hipertensi. Khusus kelompok optimal dengan tekanan darah kurang dari 120 mmHg sistolik dan kurang dari 80 mmHg diastolik, menegaskan tekanan darah tersebut tidak berbahaya, dan menjadi target tekanan darah terapi hipertensi. b). Sama seperti panduan terapi sebelumnya (JNC V) tetap memakai tekanan diastolik dan atau tekanan sistolik sebagai batasan klasifikasi, kedua tekanan sama nilainya, karena studi klinik menunjukan bahwa kedua tekanan sama pengaruhnya terhadap prognosis hipertensi
2. a).Adanya rekomendasi stratifikasi pasien hipertensi sesuai faktor risiko yang menyertai, sebelum mulai terapi dengan obat antihipertensi, karena stratifikasi ini akan memperbaiki cara terapi menjadi cost-effective. Terapi dengan obat antihipertensi pada kelompok pasien dengan risiko ringan (hipertensi derajat satu tanpa atau dengan satu faktor risiko pemberian antihipertensi harusw ditunda sampai satu tahun, sebab komplikasi kardiovaskular jangka pendeknya dianggap sangat kecil, sehingga pada kelompok ini hanya diterapi dengan modifikasi gaya hidup saja. b). Sisi lain dari sistem ini adalah bahwa kelompok non-hipertensi, kelompok dengan tekanan darah normal tinggi harus sudah diterapi dengan obat antihipertensi bila mereka disertai dengan 2 atau lebih faktor risiko atau, disertai DM atau adanya kerusakan organ sasaran atau kelainan klinik akibat hipertensi.

PANDUAN TATALAKSANA WHO/ISH 1999 Klasifikasi hipertensi menurut WHO/ISH sama hanya pada derajat 1 dibagi lagi dalam subkelompok hipertensi perbatasan (borderline) yaitu dengan tekanan 140-149/90-94 mmHg, demikian juga dalam hipertensi sistolik.
Sedangkan dalam daftar faktor risiko yang harus diperhitungkan dalam stratifikasi hipertensi jumlahnya lebih terinci dibandingkan JNC VI. Stratifikasi faktor risiko terhadap prognosis hipertensi harus dilakukan lebih dahulu karena pengelompokan tersebut dapat memperkirakan risiko kardiovaskular yang akan terjadi dalam waktu 10 tahun mendatang, yaitu pada kelompok risiko ringan kurang dari 15%, dan lebih rendah lagi pada hipertensi perbatasan, kelompok risiko sedang risiko kardiovaskular antara 15-20%, kelompok risiko berat risikonya 20-30%, dan kelompok risiko sangat berat risikonya lebih dari 30%.
Dasar mulai terapi baik modifikasi gaya hidup atau pemberian OAH kedua panduan mirip, mulai dengan modifikasi gaya hidup pada yang risiko ringan untuk 6 sampai 12 bulan, dan bila tidak berhasil atau derajat risiko lebih tinggi atau adanya DM obat segera harus diberikan dalam beberapa hari setelah diagnosis hipertensi ditegakkan. BRITISH HYPERTENSION SOCIETY
BHS tidak secara spesifik menentukan klasifikasi hipertensi, tetapi menyatakan bahwa modifikasi gaya hidup harus diberikan pada semjua orang hipertensi dan hipertensi perbatasan, dan mulai obat antihipertensi bila TDS menetap > 160 mmHg atau TDD menetap > 100 mmHg. Harus dipertimbangkan terapi obat bila TDS antara 140-159 mmHg atau TDD antara 90-99 mmHg yang disertai faktor risiko kardiovaskular terutama yang risikonya > 15%, tetapi bila faktor risikonya adalah DM maka obat harus mulai pada TDS > 140 mmHg atau TDD > 90 mmHg.
Stratifikasi untuk menghitung risiko komplikasi kardiovaskular harus dikerjakan sendiri melalui grafik yang memperhatikan faktor DM, rokok, gender, usia, dan nilai ratio kolesterol total dan kolesterol HDL.

STRATEGI TATALAKSANA HIPERTENSI
Setelah mengklasifikasi hipertensi dan terutama menstratifikasi pasien hipertensi, maka dapatlah ditentukan rencana strategi terapi, apakah dapat diterapkan modikasi gaya hidup untuk beberapa waktu dulu atau harus segera mulai OAH. Bila harus segera OAH pilihan obat lini pertama yang akan diberikan ketiga panduan (JNC VI, WHO/ISH, BHS) umumnya setuju untuk dipilih satu dari 6 OAH yaitu antara diuretik (D), penyekat beta (BB), ACEI, antagonis kalsium (AK), alfa 1 bloker (A1B), antagonis reseptor angiotensin II (ARB), dan alfa-beta blocker (ABB), serta kombinasi OAH dalam dosis kecil.
Pemilihan OAH awal berdasarkan ada tidaknya indikasi dan kontraindikasi khusus, oleh efek tambahan atau efek proteksi terhadap organ sasaran hipertensi atau penyakit dasar atau penyakit yang menyertainya.

OBAT ANTIHIPERTENSI (OAH)
Tanpa kontraindikasi OAH golongan lama yaitu D dan BB masih merupakan pilihan pertama, karena bukti klinis yang telah dibuktikan kedua golongan obat ini, serta harganya yang relatif lebih murah dibanding golongan baru, yang juga masih belum banyak bukti atau studi kliniknya. Maka bila ada indikasi khusus, pilihan obat akan mengarah pada jenis OAH yang bukti klinisnya telah jelas menunjukan efek lebihnya pada hipertensi dengan risiko khusus atau kondisis klinis terkait khusus seperti pada daftar dalam tabel berikut.

STUDI KLINIS TERBARU Terutama yang berakhir pada sekitar tahun 2000 akan menetukan apakah panduan terakhir (JNC VI, WHO/ISH 1999, atau yang lain) akan diubah dalam waktu singkat atau akan berlaku cukup lama lagi.
Beberapa penelitian yang berakhir dan dipublikasikan menjelang atau pada tahun 2000 perlu diketahui adalah : HOT (Hypertension Optimal Treatment, 19 193 pasien) menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah sampai 140 mmHg sistolik dan 85 mmHg diastolik, akan menurunkan komplikasi kardiovaskular, terutama bermanfaat pada pasien dengan DM.
UKPDS (United Kingdom Prospective Diabetes Study, 1148 pasien) menunjukkan bahwa kontrol tekanan darah yang ketat akan mengurangi risiko mortalitas atau morbiditas DM tipe 2 yang terkait dengan hipertensi, efek kaptopril atau atenolol sama, dan mungkin efek penurunan tekanan darah lebih penting perannya daripada prevensi DM yang lain. Syst-Eur (Systolic Hypertension-Europe, 469 pasien) menunjukkan bahwa antagonis kalsium (nitrendipin) dapat mengurangi komplikasi kardiovaskular dan serebrovaskular pada pasien diatas 60 tahun dengan hipertensi sistolik terisolasi, meskipun total kematian tidak berkurang secara bermakna, dan yang juga penting adalah kesimpulan bahwa nitrendipin adalah aman.
Syst-China (Systolic Hypertension-China, 1253 pasien) sama seperti Eropa trial yaitu mempergunakan nitrendipin yang hasilnya menunjukan bahwa sekali lagi membuktikan antagonis kalsium menurunkan angka kejadian stroke, risiko kardiovaskular, dan total kematian Nordil (Nordic Diltiazem Study, 10 881 pasien) menunjukan bahwa diltiazem, suatau jenis antagonis kalsium secara efektif dapat menurunkan hipertensi dan komplikasinya : infark miokard, dan kematian akibat komplikasi kardiovaskular, sama seperti diuretik dan penyekat beta, dan terutama lebih baik dalam mencegah strok.
Inti dari trial baru adalah bahwa penurunan tekanan darah serendah mungkin tidak berbahaya, maka harus tetap diusahakan, dan efek samping yang dahulu diduga dari antagonis kalsium tidak terbuktikan.

KONSEP TERAPI HIPERTENSI TERKINI
Tahap-tahap yang perlu diperhatikan agar terapi hiperetensi lebih berhasil adalah: Diagnosis yang tepat dan sedini mungkin (pengukuran beberapa kali dan kalau perlu beberapa kunjungan)
Pendidikan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan akan bahaya hipertensi dan makna serta manfaat bila tekanan darah dapat di "normalkan" Menyampaikan data yang besar dari studi klinik pada tenaga kesehatan maupun masyarakat, khususnya tentang manfaat penurunan/terapi hipertensi.
Meningkatkan (maksimalisasi) kepatuhan berobat ataupun kontrol pasien. Merangsang para tenaga kesehatan untuk berusaha menurunkan tekanan darah pasien hipertensi
Mempergunakan OAH yang dapat ditoleransi secara baiki, biasanya juga yang dapat dimakan sekali sehari. Konsep tersebut dapat disingkatkan sebagai berikut :
Diagnosis sedini dan setepat mungkin pada pasien yang mempunyai risiko hipertensi. Terapi harus agresif menurunkan tekanan darah serendah mungkin agar komplikasi terhindarkan atau seminimal mungkin.
Namun penurunan tekanan darah harus secara pelahan, agar tidak terjadi hipoperfusi organ sasaran hipertensi yang juga dapat menimbulkan komplikasi yang negatif/tidak baik. Pilih obat yang sesuai dengan indikasi, bila ada juga yang ada efek tambah, yang dapat diberikan sekali sehari, agar kepatuhan maksimal.
Pendidikan masyarakat umum atau masyarakat kesehatan adalah penting, baik sebagai usaha preventif maupun usaha mendapatkan hasil terapi yang maksimal.





 DAFTAR PUSTAKA
1. 1999 WHO-ISH Guidelines for the Management of Hypertension . Bulletin of the ISH no.1-1999
2. Beevers DG, MacGregor GA. The benefits of antihypertensive treatment. Hypertension in Practice. 3rd ed. Martin Dunitz '1999. 3. Elliott.WJ. The current inadequate control of hypertension : How can we do better.Kaplan NM. Hypertension Therapy annual Martin Dunitz 2000
4. Ramsay et all. Guidelines for management of hypertension : report of the third working party of the British Hypertension Society. Journal of Human Hypertension (1999) 13 5. The Sixth Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. NIH Publication November 1997)
Naskah ini merupakan makalah Simposium Current Diagnosis and Treatment 2001 di Hotel Borobudur 27-28 Desember 2001 yang telah dibukukan. Versi html ini tidak dilengkapi dengan tabel, grafik, atau gambar. Buku dapat anda peroleh di toko-toko buku kedokteran atau langsung di penerbit (Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Naskah ini dilindungi undang-undang. Dilarang mengcopy/menyalin sebagian atau seluruh naskah tanpa seijin penerbit atau penulis.
Jakarta, 2001 




Mari belajar membuat toko online sendiri disini  <<<

Baca Selengkapnya...

Materi Dasar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan



Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.

Tujuan Pertolongan Pertama
  1. Menyelamatkan jiwa penderita
  2. Mencegah cacat
  3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan

Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu
Dalam perkembangannya tindakan pertolongan pertama diharapkan menjadi bagian dari suatu sistem yang dikenal dengan istilah Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, yaitu sistem pelayanan kedaruratan bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang kesehatan.

Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu:
  1. Akses dan Komunikasi
Masyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.
  1. Pelayanan Pra Rumah Sakit
Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.
Klasifikasi Penolong:
a.    Orang Awam
Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama
b.    Penolong pertama
Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMI
c.    Tenaga Khusus/Terlatih
Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di Lapangan
  1. Tansportasi
Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi

Dasar Hukum
Di dalam undang-undang ditemukan beberapa pasal yang mengatur mengenai Pertolongan Pertama, namun belum dikuatkan dengan peraturan lain untuk melengkapinya. Beberapa pasal yang berhubungan dengan Pertolongan Pertama antara lain :

  

Persetujuan Pertolongan
Saat memberikan pertolongan sangat penting untuk meminta izin kepada korban terlebih dahulu atau kepada keluarga, orang disekitar bila korban tidak sadar. Ada 2 macam izin yang dikenal dalam pertolongan pertama :
  1. Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent)
Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan persetujuan
  1. Pesetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent)
Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.

Alat Perlindungan Diri
Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi dengan peralatan yang dikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :
a.    Sarung tangan lateks
Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.
b.    Kaca mata pelindung
Mata juga termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusia
c.    Baju pelindung
Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.
d.    Masker penolong
Mencegah penularan penyakit melalui udara
e.    Masker Resusitasi Jantung Paru
Masker yang dipergunakan untuk memberikan bantuan napas
f.     Helm
Seiring risiko adanya benturan pada kepala meningkat. Helm dapat mencegah terjadinya cedera pada kepala saat melakukan pertolongan.

 
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :
a.    Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
b.    Dapat menjangkau penderita.
c.    Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
d.    Meminta bantuan/rujukan.
e.    Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban
f.     Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
g.    Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.
h.    Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
i.      Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.

Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
Agar dapat menjalankan tugas seorang petugas penolong harus memiliki kualifikasi sebagai berikut :
  1. Jujur dan bertanggungjawab.
  2. Memiliki sikap profesional.
  3. Kematangan emosi.
  4. Kemampuan bersosialisasi.
  5. Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus penyegaran.
  6. Selalu dalam keadaan siap, khususnya secara fisik
  7. Mempunyai rasa bangga.

Fungsi Alat dan Bahan Dasar
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa peralatan dasar yang sebaiknya tersedia dan mampu digunakan oleh penolong di antaranya :
1.    Alat dan bahan memeriksa korban
2.    Alat dan bahan perawatan luka
3.    Alat dan bahan perawatan patah tulang
4.    Alat untuk memindahkan penderita
5.    Alat lain yang dianggap perlu sesuai dengan kemampuan

Baca Selengkapnya...

Tatalaksana Serangan Asma

Serangan asma adalah suatu episode dimana gejala-gejala berupa batuk, sesak nafas, mengi, rasa dada
tertekan, atau berbagai kombinasinya memburuk secara progresif akut. Serangan asma umumnya
timbul karena adanya pajanan terhadap faktor pencetus, gagalnya upaya pencegahan, atau gagalnya tatalaksana asma jangka panjang.
Serangan asma dapat timbul dalam berbagai derajat dari yang ringan sampai berat yang dapat mengancam jiwa. Serangan asma yang akut merupakan suatu kegawatan medis yang lazim dijumpai di
ruang gawat darurat. Serangan asma tersebut sebenarnya dapat dicegah atau paling tidak dikurangi melalui pengenalan dini
dan terapi intensif. Sayangnya, kedua hal tersebut dalam hal penatalaksanaan asma anak masih banyak kekurangan yang terjadi.
Menurut buku Pedoman Nasional Asma Anak UKK Pulmonologi IDAI 2002, penyakit asma dibagai dalam 3 kelompok berdasarkan frekuensi serangan dan kebutuhan obat, yaitu asma ringan, sedang, dan
berat. Selain klasifikasi derajat penyakit asma di atas, asma juga dapat dinilai berdasarkan derajat serangannya, yaitu serangan ringan, sedang, dan berat. Jadi perlu dibedakan antara derajat penyakit
asma (aspek kronik) dengan derajat serangan asma (aspek akut). Seorang penderita asma berat (persisten) dapat mengalami serangan ringan saja. Sebaliknya seorang penderita asma ringan
(episodik/jarang) dapat mengalami serngan asma berat, atau bahkan serangan ancaman henti nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Terapi yang diberikan bergantung pada beratnya derajat
serangan asma. Tatalaksana serangan asma dilakukan dengan tujuan untuk meredakan penyempitan jalan nafas
secepat mungkin, mengurangi hipoksemia, mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya, dan merenacanakan tatalaksana mencegah kekambuhan.
Tatalaksana Serangan 1. Tatalaksana di rumah
Untuk serangan ringan dapat digunakan obat oral golongan beta 2 agonis atau teofilin. Bila tersedia, lebih baik digunakan obat inhalasi karena onsetnya lebih cepat dan efek samping
sistemiknya minimal. Obat golongan beta 2 agonis inhalasi yang dapat digunakan yaitu MDI dengan atau tanpa spacer atau nebulizer.
Bila dalam waktu 30 menit setelah inhalasi tidak ada perbaikan atau bahkan terjadi perburukan harus segera dibawa ke rumah sakit.
2. Tatalaksana di klinik Penderita yang datang dalam keadaan serangan langsung dinilai derajat serangannya.
Tatalaksana awal adalah pemberian beta agonis secara nebulisasi. Garam fisiologis dapat ditambahkan dalam cairan nebulisasi. Nebulisasi serupa dapat diulang dengan selang 20 menit.
Pada pemberian ketiga dapat ditambahkan obat antikolinergik. Tatalaksana awal ini sekaligus berfungsi sebagai penapis yaitu untuk penentuan derajat serangan, karena penilaian derajat
secara klinis tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat dan jelas. Jika menurut penilaian awal penderita datang dengan serangan berat yang jelas, langsung
berikan nebulisasi beta agonis dikombinasikan dengan antikolinergik. Penderita serangan berat dengan disertai dehidrasi dan asodosis metabolik dapat mengalami takifilaksis atau respons
yang kurang terhadap nebulisasi beta agonis. Penderita seperti ini cukup sekali dinebulisasi kemudian secepatnya dirawat untuk mendapat obat intravena selain diatasi masalah dehidrasi
dan asidosisnya. Sedangkan bila dengan sekali nebulisasi penderita menunjukkan respons yang baik, berati
serangannya ringan. Penderita diobservasi selama 2 jam, jika respons tersebut bertahan, penderita dapat dipulangkan. Penderita dapat diresepkan obat beta agonis, baik hirup maupun
oral, yang diberikan tiap 4 sampai 6 jam. Jika pencetus serngannya adalah infeksi virus, dapat ditambahkan steroid oral jangka pendek, 3 sampai 5 hari. Penderita kemudian dianjurkan untuk
kontrol dalam waktu 24 sampai 48 jam untuk reevaluasi tatalaksananya. Selain itu jika sebelum serngan penderita sudah mendapat obat pengendali, obat tersebut diteruskan hingga reevaluasi
di klinik. Namun jika setelah observasi 2 jam gejala timbul kembal, penderita harus segera dibawa ke rumah sakit.
Panduan ini disusun berdasarkan beberapa bahan yang dimodifikasi, disesuaikan dengan keadaan setempat dan fasilitas yang tersedia.
Baca Selengkapnya...