Selamat datang teman, Kami harap bisa menikmati blog kami. Happy blogging ! .
Cek kembali jika kami sudah selesai dengan ini...
Silahkan Mengisi buku tamu untuk sekedar meninggalkan Jejak.. :)
Peluang bisnis anda

SPACE IKLAN

Space buat promosi halaman atau produk anda, minat hubungi kami..

Selengkapnya...
Title

Ibu Rumah Tangga yang Sukses

Selain Mahasiswa banyak juga loh ibu rumah tangga yang berhasil dengan mengikuti tips bisnis dari mba Dini Santi. Pasti senang bisa bantu ekonomi keluarga. Tetapi perjuangan Mba Dian ini ngga mudah awal-awalnya tp sekarang beliau sudah sukses dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

Yuk lihat cerita sukses lainnya
Title

Tentang Akper IV

Angkatan yang mempunyai Seribu Satu Kisah Sedih, Senang, Susah bersama, saat dimana bisa menangis bersama, saat dimana bisa tersenyum bersama. Mempunyai motto kita selalu beda.

Read More
sukses dan sehat

Blog ini Penggemar Berat DBC-Network

Jelas banget dbc-network udah mengubah hidup saya, jadi melek IT, Dulu muncul pertanyaan gini "Waktu habis untuk ngantor? meeting? Capek di jalan? Tidak punya modal?" Bersama Oriflame di d’BC Network, Anda bisa mulai membangun bisnis dengan segala keterbatasan diatas! TAPI jangan dulu percaya kalo belum membaca kisah suksesnya yah

Kisah Sukses Lainnya

Susah Tidur | Coba Kurangi lemak di Perut



Oleh: dr. Dewi Ema Anindia
KlikDokter.com - Banyak teori yang berpendapat bahwa susah tidur dapat menyebabkan penambahan berat badan, namun saat ini telah ditemukan teori baru yang berpendapat sebaliknya.


Beberapa penelitian menyebutkan bahwa “sleep deprivation” atau kurangnya tidur sangat erat kaitannya dengan obesitas dan ada penelitian yang melaporkan bahwa individu dengan berat badan berlebih cenderung lebih susah untuk tidur pulas. Penelitian yang dilakukan di John Hopkins University School of Medicine melaporkan dalam 2012 American Heart Association Scientific Sessions di Los Angeles bahwa penurunan berat badan melalui diet atau kombinasi dari diet dengan olahraga dapat membantu masalah susah tidur atau dapat membuat tidur lebih nyaman.

Penelitian yang dilakukan di John Hopkins ini berlangsung selama 6 bulan, dengan mengikuti 77 subjek dengan berat badan berlebihan atau subjek dengan obesitas yang menderita diabetes tipe 2 atau prediabetes. Pada permulaan dan akhir dari studi, para subjek mengisi survei dengan pertanyaan berkisar antara gangguan tidur. Peneliti juga mengukur IMT (Indeks Masa Tubuh) untuk mengikuti perubahan berat badan masing-masing subjek.

Setelah itu subjek dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok pertama mengikuti progam diet dengan olahraga dan kelompok kedua hanya mengikuti progam diet saja. Setelah 6 bulan, terbukti bahwa pada kedua kelompok terjadi penurunan berat badan sebanyak 6,8 kg dan pengurangan lemak di perut (belly fat) sebanyak 15% serta ditemukan bahwa pada kedua kelompok didapatkan perbaikan keluhan tidur sebanyak 20%.

Kerry Stewart, seorang professor dari John Hopkins berpendapat bahwa kunci dari perbaikan tidur adalah penurunan jumlah lemak di tubuh melalui diet dan olahraga terutama lemak di perut (belly fat).

Mengapa begitu?

Ternyata lemak di perut itu dapat disamakan dengan organ tubuh yang hidup oleh karena lemak tersebut dapat memproduksi protein yang memicu inflamasi yang dapat memicu komplikasi di seluruh tubuh seperti di jantung. Efek lain dari obesitas ternyata dapat memberi tekanan pada jantung dan paru-paru yang membuat paru-paru tidak dapat ekspansi dengan baik sehingga menyebabkan susahnya bernafas saat tidur itulah yang dapat memicu sleep apnea.

Antara gangguan tidur dapat menyebabkan obesitas atau obesitas menyebabkan gangguan tidur masih belum jelas, namun ini merupakan suatu siklus mematikan, entah dimulai dari yang mana.[](EA)

Baca Selengkapnya...

Tip Belanja Belanji di Sydney

Window display di QVB
Setahun sekali di Sydney, ada hari khusus untuk berbelanja gila-gilaan, ketika SEMUA toko menawarkan diskon. Mereka menyebutnya Boxing Day. Saya menyebutnya Hari Raya Berbelanja :)

Boxing Day dirayakan setiap tanggal 26 Desember, satu hari setelah Natal. Tadinya saya pikir Boxing Day ini berkaitan dengan 'tinju', tapi tinju yang bagaimana? Ternyata bukaaan. Pada awalnya, Boxing Day ini diramaikan dengan memberikan hadiah (natal) untuk orang-orang miskin, yang dikemas dalam kotak (box). Tapi maknanya kemudian bergeser menjadi hari belanja untuk menghabiskan uang lebaran atau angpao :)

Biasanya, sebelum datang tanggal ini, orang-orang sudah mengincar apa yang ingin mereka beli pada Boxing Day. Katalog SALE bisa dilihat di internet, website masing-masing toko atau di Lasoo. Pasukan belanja sampai mati ini biasanya mengincar merk-merk terkenal, gaun-gaun disainer yang hanya memberi diskon setahun sekali pada hari tersebut. Nggak heran kalau mereka sampai bela-belain antre di depan toko mulai subuh, menunggu toko buka jam 7 pagi dan bergegas mencomot barang yang mereka incar. Tak jarang, ada aksi rebutan, saling sikut dan saling dorong. Boxing, anyone? :p Dan sebenarnya, acara belanja di Boxing Day ini tidak ramah untuk anak-anak, takut mereka kejepit dan keinjek. Alternatif bagi yang males keluar rumah adalah belanja daring. Brand favorit saya untuk belanja fesyen daring adalah Sportsgirl, Sportcraft, Hijab House dan Supre.


perempatan yang sibuk
QVB
Saya tidak hobi berbelanja barang-barang branded. Lha modalnya saja habis buat jalan-jalan :) Tapi lima setengah tahun tinggal di Sydney, setidaknya saya tahu di mana mencari barang-barang bagus dengan harga murah. Asyiknya belanja di sini, bisa mulai window shopping dari rumah, karena setiap brand atau toko punya katalog daring. Sila langsung klik link yang ada di sini untuk ikutan window shopping dan siap-siap anggaran berapa kalau mau belanja sampai bangkrut di Sydney :) You can thank me later.

Downtown Shopping
Yang ingin berburu oleh-oleh made in China sila langsung menuju Paddy's Market yang tersohor itu. Semua tip mencari oleh-oleh sudah pernah saya tulis di sini.

Queen Victoria Building atau QVB adalah shopping mal yang wajib dikunjungi di Sydney, termasuk yang tidak berniat belanja sekali pun. Bangunan tua dan cantik ini cukup fotogenik, bagus difoto dari sudut manapun. Tak jarang mal ini dipakai untuk foto prewed. Setiap boxing day, bakal terlihat antrean mengular untuk masuk toko BALLY di lantai dasar. Antrean yang lebih pendek juga terjadi di toko kristal Swarovski dan salah satu merk fesyen Aussie: Country Road.

Biasanya, selain mengagumi arsitektur dan detil QVB, saya ajak keluarga makan di Laksa House di basement. Saya juga suka ngopi-ngopi cantik di Starbucks di bawah QVB kalo lagi sendiri sambil melihat orang lalu lalang. Nah, di dekat Starbucks di lantai bawah itu ada toko pernak-pernik dapur dan rumah tangga yang semua Emak perlu tahu: Victoria Basement. Toko ini sering menggelar diskon dan saya selalu gagal pulang dengan tangan kosong :D Tante dan Ibu Mertua saya saja kalap kalau diajak masuk toko ini. Soalnya banyak bric-a-brac unik yang bisa mempercantik dapur, yang tidak ada di Indonesia. Saran saya, tinggalkan anak-anak (dan suami) di rumah/hotel karena lorong-lorong di toko ini sempit dan banyak barang pecah belah. Katalog bisa dilihat online di sini. You're welcome ;)

Di seberang QVB ada The Galeries. Toko yang paling sering saya kunjungi di Mal ini adalah Toko Buku Kinokuniya dan toko DVD JB Hifi. Pojok buku anak-anak di Kinokuniya Sydney ini punya pemandangan yang luar biasa: perempatan paling sibuk di kota di depan Town Hall. Saya bisa berlama-lama duduk di pojok ini sambil menatap orang-orang yang menyeberang jalan dengan tergesa-gesa di bawah sana. Sayangnya sekarang dipasang larangan memotret. Mungkin sudah banyak fotografer yang berusaha mengabadikan momen di perempatan tersebut, yang malah mengganggu anak-anak yang membaca buku. Tapi... coba aja dengan kamera kecil. Moga-moga satpamnya sedang sibuk dengan gadget dan lupa menengok CCTV :) Di Kinokuniya, saya biasanya hanya lihat-lihat buku. Kalau borong beli buku, saya biasanya ke Basement Bookstore yang ada di mulut terowongan Central Station. Toko buku ini diskonnya gila-gilaan, sampai 90%. Awas, pegangi dompet dan ingat kuota bagasi kalau sempat mampir sana :)

Sementara itu... JB Hifi adalah surga DVD! Bagi pecinta dan kolektor film, sepertinya bakal histeris menemukan DVD apapun ada di sini, mulai dari film klasik lawas sampai film animasi terbaru. Harga DVD dan Blu Ray asli di sini jauuuuh lebih murah daripada di Indonesia. Yuk maree... 

Satu blok dari QVB dan The Galeries adalah Pitt St Mall. Jalan satu ini ditutup untuk kendaraan bermotor dan hanya digunakan untuk pejalan kaki. Dua departemen store di blok ini adalah Myer dan David Jones. Di sini lah kehebohan boxing day terjadi. Jangan heran kalau pas jalan-jalan ke Sydney tanggal 26 Desember, melihat SEMUA orang menenteng tas belanja Myer atau David Jones. Di Westfield Sydney, masih di Pitt St, kita bisa menemukan semua butik mewah: Prada, Miu Miu, Chanel, Gucci, sebutkan saja. Saya tidak pernah berani masuk ke butik yang pintunya dijaga lelaki berseragam dan memakai sarung tangan ini. Paling sekali setahun saya ikut antre masuk butik Bally dan pegang-pegang apa yang bisa dipegang, haha. Pernah Si Ayah iseng melihat dan menanyakan harga handbag branded di David Jones. Dia tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya saat tahu tas-tas yang didiskon ini harganya sampai $5000. "Siapa yang mau beli tas dengan harga segini?" tanyanya heran.
Err... orang-orang dengan disposable income? Kalau kami punya uang segitu, mending untuk jalan-jalan ke Eropa sih.

Westfiled mal ini juga menjadi pintu masuk untuk naik ke atas Sydney Tower. Sayangnya kami belum pernah naik karena Si Ayah takut ketinggian, hehe.

Toko-toko favorit kami juga ada di sepanjang Pitt St: Diva (aksesori), Sportsgirl (fesyen), dan Smiggle (stationery). Untuk balik ke George St (ada Apple Store di seberang jalan) bisa melewati Strand Arcade sambil cuci mata gaun-gaun cantik karya perancang Aussie: Lisa Ho, Alannah Hill, Leona Edmiston, Alex Perry, dll.

Outlet Esprit di atas Paddy's Market
Outlet
Yang waktunya sedikit tapi duitnya banyak, bolehlah belanja di kota. Tapi, orang-orang seperti saya, kebalikan dari kategori tadi, mari melipir ke outlet berburu barang-barang diskon.

Outlet favorit saya adalah Birkenhead Point, kira-kira setengah jam naik bis dari QVB ke arah utara. Mal yang satu ini bentuknya gudang luas dan letaknya di pinggir dermaga yang cantik. Kalau puas mengubek-ubek toko, saya biasanya duduk-duduk di kursi food court di luar, menikmati pemandangan kapal-kapal yang berlabuh sambil nyemil gozleme.

Sebagian toko dan brand yang ada di tengah kota tadi bisa ditemui di sini. Barang-barang clearance dari dept. store David Jones ada di sini, harganya kadang lebih murah dari harga boxing day. Begitu juga outlet merk Oroton, diskon minimal 60%. Saya biasanya mampir ke: Sheridan untuk cari bed sheet atau handuk, Corelle untuk piring-piring cantik, Pumpkin Patch untuk cari baju anak-anak dan Diana Ferrari untuk cari sepatu. Tapi favorit saya tetap outlet Kathmandu yang menyediakan peralatan outdoor dengan desain lucu-lucu. Yang nggak sempat ke Birkenhead, jangan khawatir, ada toko Kathmandu di atas Town Hall stasiun di tengah kota.

Satu lagi outlet tengah kota yang lumayan menarik untuk berburu diskonan: Market City. Letaknya persis di atas Paddy's Market, nggak susah dong carinya :) Di sini ada diskonan Esprit sepanjang masa, juga Supre, Oroton Factory, Cotton On, Cotton On Kids dan Giordano. Tenang, di sini mereka nggak berisik panggil-panggil Kakak kok :D

Masih ada lagi sih tempat belanja alternatif yang tak kalah asyik: weekend market. Tapi ntar aja ya saya tulis tersendiri. Oh, ya, kalau mau belanja mainan anak-anak, Toys Sale biasanya di tengah tahun: Juni/Juli. Cek katalog di Lasoo untuk membandingkan harga masing-masing toko. Pastikan anak-anak tidak ikut melihat isi katalog, nanti histeris, hehe.

Ada yang mau sharing pengalaman atau menambah tip belanja belanji di Sydney?

~ The Emak Baca Selengkapnya...

Menggunakan Bakteri untuk Membasmi Malaria

9 Mei 2013, sciencedaily.com - Nyamuk mematikan pemancar penyakit efisien. Penelitian yang dilakukan di Michigan State University, bagaimanapun, menunjukkan bahwa mereka juga dapat menjadi bagian dari solusi untuk penyakit seperti malaria.

Sebuah studi di edisi terbaru Science menunjukkan bahwa transmisi malaria melalui nyamuk ke manusia dapat terganggu dengan menggunakan strain bakteri Wolbachia dalam serangga. Dalam arti, Wolbachia akan bertindak sebagai vaksin macam untuk nyamuk yang akan melindungi mereka dari parasit malaria. Mengobati nyamuk akan mencegah mereka dari transmisi malaria ke manusia, penyakit yang pada tahun 2010 mempengaruhi 219 juta orang dan menyebabkan sekitar 660,000 kematian.
"Strategi pengendalian malaria berbasis Wolbachia telah dibicarakan selama dua dekade terakhir," kata Zhiyong Xi, MSU asisten profesor mikrobiologi dan genetika molekuler. "Pekerjaan kami adalah yang pertama untuk menunjukkan Wolbachia dapat stabil didirikan pada vektor malaria kunci, nyamuk Anopheles spesies stephensi, yang membuka pintu untuk menggunakan Wolbachia untuk pengendalian malaria."
Pertama, tim Xi berhasil menunjukkan bagaimana Wolbachia dapat dibawa oleh vektor nyamuk malaria ini dan bagaimana serangga dapat menyebarkan bakteri ke seluruh populasi nyamuk secara keseluruhan. Kedua, peneliti menunjukkan bahwa bakteri dapat mencegah nyamuk dari transmisi parasit malaria ke manusia.
"Kami mengembangkan garis nyamuk pembawa infeksi Wolbachia stabil," kata Xi. "Kami kemudian diunggulkan menjadi populasi terinfeksi dan berulang kali menghasilkan populasi didominasi nyamuk Wolbachia yang terinfeksi."
Dasar untuk temuan terbaru Xi terhubung ke keberhasilan karyanya menggunakan Wolbachia untuk menghentikan demam berdarah. Untuk penelitian ini, Xi difokuskan pada spesies nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegypti. Karya ini membantu meluncurkan upaya global untuk mengembangkan strategi berbasis Wolbachia untuk menghilangkan berdarah dan penyakit lainnya.
Kunci untuk penelitian malaria mengidentifikasi spesies yang benar Wolbachia - wAlbB - dan kemudian menyuntikkan ke embrio nyamuk. Dari ribuan embrio disuntikkan oleh penelitian asosiasi Guowu Bian, satu berkembang menjadi perempuan yang diusung Wolbachia. Nyamuk garis yang berasal dari perempuan ini telah mempertahankan infeksi Wolbachia wAlbB dengan frekuensi infeksi 100 persen melalui 34 generasi. Jumlah tersebut bisa tumbuh lebih tinggi karena ini hanyalah generasi terakhir para peneliti telah dibesarkan sejauh ini, kata Xi.
Tim kemudian diperkenalkan berbagai rasio perempuan yang terinfeksi Wolbachia ke populasi nyamuk yang tidak terinfeksi. Dalam setiap kasus, seluruh penduduk membawa bakteri dalam delapan generasi atau kurang.
Dengan menggunakan pendekatan ini menjanjikan untuk mengatasi malaria - penyakit vector-borne terbesar - memberikan para ilmuwan dan pejabat kesehatan dunia lain alat penting untuk memerangi malaria.
Setelah Wolbachia telah dilepaskan ke populasi nyamuk, sangat mungkin bahwa hal itu tidak perlu diterapkan kembali, sehingga lebih ekonomis daripada metode lain seperti pestisida atau vaksin manusia. Hal ini menambah nilai khusus untuk kelayakan strategi pengendalian ini, mengingat sebagian besar daerah endemik malaria menderita kemiskinan, kata Xi.

Baca Selengkapnya...

A Quick Rocking Experience At Hard Rock Hotel Bali

Cool guitars :)
Meskipun 'liburan' kami ke Bali kali ini termasuk sangat singkat, kesan yang kami dapatkan sungguh menyenangkan. Salah satunya karena kami menginap di 'the bestest hotel ever' versi Little A :)

Berawal dari mendapatkan durian runtuh tiket gratis Air Asia untuk Surabaya - Denpasar bulan April ini, saya mulai cari-cari hotel untuk menginap di Bali. Kriterianya yang paling penting adalah family friendly, artinya bisa muat untuk dua dewasa dan dua anak dalam satu kamar, tanpa extra bed atau tanpa sembunyi-sembunyi menyelundupkan anak, hehe. Meskipun hotel di Bali banyak banget, ternyata tidak gampang mencari kamar hotel dengan dua double bed. Biasanya hotel menyediakan satu queen/king bed atau dua single bed. Kapasitas juga terbatas untuk dua dewasa dan satu anak kecil. Kalau anak sudah berusia 11 tahun seperti Big A, sudah tidak nyaman satu ranjang dengan orang tuanya. Jadi meskipun ada promo-promo hotel yang murah jatuhnya tetap mahal karena harus ada extra bed atau malah harus pesan dua kamar.

Kriteria lain adalah harus dekat dari bandara karena flight kami kembali ke Surabaya cukup pagi. Kami tidak mau deg-deg-an di jalan terkena macet atau harus berangkat terlalu pagi. Pilihannya tinggal di daerah Jimbaran, Tuban, Kuta Selatan atau Kuta karena saya maunya beachfront, di depan pantai persis. Selain itu saya masih punya syarat lagi: punya kolam renang untuk anak-anak agar kami tidak perlu main di Waterbom. Tiket Waterbom ternyata lumayan mahal juga untuk berempat. Trus syarat yang terpenting adalah tarifnya tidak mahal! Duh, Emak-Emak memang banyak maunya ya? :p

Website andalan saya untuk membaca review hotel adalah Trip Advisor, meski harus diakui terjemahan bahasa Indonesia lucu banget. Mending baca website berbahasa Inggrisnya deh. Hard Rock Hotel Kuta lumayan dapat review bagus, terutama oleh keluarga yang membawa anak kecil. Hotel ini juga dipilih pembaca Trip Advisor menjadi salah satu dari 10 Hotel Keluarga Terbaik di Indonesia tahun 2013. Saya langsung cek harga (sekaligus membandingkan dengan tarif hotel lain) di Agoda, HotelsCombined dan website resminya.

Ternyata paling murah di website resminya, saudara-saudara. Di Agoda malah lebih mahal dan belum tentu dapat diskonan, voucher dan bonus macem-macem. Kami mendapat harga Rp 1.204.764 per malam untuk kamar deluxe (yang paling murah pokoknya), sudah termasuk pajak, termasuk sarapan untuk dua dewasa dan dua anak-anak. Not bad. Dan kalau booking di websitenya, kita tidak perlu bayar di muka. Bisa bayar ketika cek out, tapi nomor kartu kredit kita dicatet. Sebenarnya ada bonus free shuttle dari bandara kalau menginap dua malam, atau bonus free family dinner kalau menginap tiga malam. Sayangnya kami cuma menginap semalam karena ada teman yang mengundang kami menginap di Vila barunya di Canggu.

Sayangnya Hotel Hard Rock ini baru bisa cek in jam 3 sore. Padahal maksud saya setelah makan siang di sekitar Kuta, kami berharap bisa langsung ke hotel sekitar jam 2-an. Saya hubungi akun twitter mereka: @hrhbali untuk mengemis early check in. Ternyata si admin ramah banget dan kami boleh cek in jam 2. Mari kita follow @hrhbali, siapa tahu mereka kasih promo atau bagi-bagi gratisan (modus, hehe).

Sesuai itinerary, setelah makan siang di restoran favorit Little A kami cek in di hotel. Kejutan! Kamar kami di-upgrade menjadi Kids Suite. Whoa! Hadihaha, yay! Saya melirik Big A yang tidak bisa berhenti tersenyum. Ini salah satu impian dia, menginap di Kids Suite, Hard Rock. Berkali-kali dia membuka website Hard Rock dan melihat-lihat kamar spesial ini. Hanya saja saya bilang belum mampu bayar tarifnya. Ntar aja kalau lagi ada diskon. Atau di-upgrade :)) Big A's dream comes true. "Why do they upgrade our room, Mommy?" tanya Big A. Karena tidak tahu, saya juga jawab sekenanya. "Mungkin mereka tahu kalau kita gak mampu bayar kamar suite." Big A meringis. "No, maybe because we are good people. Let's go to our room berfore they change their mind." Dengan semangat empat lima kami menuju kamar yang terletak di wing 1, ditemani petugas yang membawakan ransel-ransel kami, yang baju seragamnya persis kemeja yang saya kenakan, euw :D Senyum Little A mengembang begitu melihat tanda bintang di depan pintu kamar kami: Rock Star!

The Precils dapat kamar sendiri. Asyik!
Kamar The Emak dan Si Ayah. #okesip :p
Posisi wuenak! Udah susah diajak keluar hotel :)
Cerita berikut ini seharusnya disensor demi reputasi pemilik blog ini, tapi begini lah yang terjadi setelah kami masuk kamar. "Whoohoo!" Big A berteriak kegirangan dan langsung meloncat ke ranjang atas bunk bed. Little A ikut-ikutan naik ke ranjang, memeluk boneka yang tersedia di sana. Big A meloncat turun dan mendarat di bean bag besar yang disediakan untuk leyeh-leyeh. Saya ikut senang melihat ekspresi precils yang sangat gembira, sambil nyemil coklat-coklat kecil yang disediakan di meja makan. Tapi saya segera menguasai keadaan: ayo foto-foto dulu sebelum semuanya berantakan!

Kamar Kids Suite ini memang sangat asyik, melebihi ekspektasi kami. Ada ruang khusus untuk anak-anak yang didesain sangat cute, dilengkapi dengan amenities yang menarik untuk mereka: bunk bed alias ranjang susun, boneka plush toys, bean bag, peralatan main pasir, buku-buku, dan Play Station 3 termasuk guitar untuk main guitar hero. Lebih asyik lagi, precils mendapat kamar mandi sendiri dengan sikat gigi, pasta gigi, sabun, shampo dan kaca mata renang khusus untuk anak-anak. Kids Suite ini benar-benar memanjakan precils, menjadikan mereka lil' rocks :)

Dari pengalaman kami traveling, beberapa kali kami memesan penginapan dua kamar, tapi the precils jarang dengan sukarela mau tidur sendiri di kamar yang disediakan. Biasanya mereka akan ikut tidur di ranjang utama. Kecuali di Kids Suite hotel ini. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan kamar Si Ayah dan The Emak. Asyik kan? :p



Saya sendiri suka dengan perhatian kecil yang diberikan hotel ini. Misalnya kartu selamat datang yang ditulis tangan oleh manajer hotel, buah-buah segar yang disediakan (meski saya tidak tahu bagaimana caranya memotong nanas dengan pisau roti), nama saya di kotak peralatan mandi (berarti boleh dibawa pulang ya?) dan tentu saja cokelat-cokelat selamat datang (yang sebagian besar dimakan Si Ayah, bukan saya). Yang paling saya suka: ada mesin pembuat kopi! Pagi-pagi sebelum cek out, saya sempatkan membuat kopi dari pod yang disediakan. Tentu kopinya lebih sedap daripada kopi instan. Sayangnya mereka tidak menyediakan susu segar untuk teman minum kopi, seperti hotel/motel di Australia dan New Zealand. Di Indonesia, biasanya cuma disediakan kopi bubuk, creamer dan gula. Untungnya kami membawa sendiri susu segar. Punya anak-anak sih, minta dikit gak papa kan? Duh, saya jatuh cinta sama mesin kopi Pod Brewer ini, pengen saya bawa pulang :) Pagi itu baru saya tahu kalau ada yang lupa menyediakan sendok kecil untuk mengaduk kopi. Atau saya aja yang tidak berhasil menemukan?

Masalahnya dengan kamar hotel yang terlalu nyaman, rasanya malas sekali untuk keluar. Setelah selesai beres-beres, Si Ayah, Little A dan Big A duduk nyaman di day bed menonton film di televisi. Si Ayah sedari tadi sudah 'tidak rewel' sejak saya beri password untuk menyalakan wifi, yang katanya lumayan kencang. Posisi wuenak mereka ini susah untuk diganggu gugat. The Emak harus ultimatum: renang jam empat, lihat sunset di Kuta jam 5! Hening, tidak ada jawaban kecuali suara dari speaker televisi kabel.

Dengan kolam renang terbesar di Bali ini, saya bisa bilang bahwa Hard Rock sebenarnya bukan hotel, tapi kolam renang raksasa yang kebetulan juga menyewakan kamar-kamar. Kamar kami cukup jauh dari kolam renang utama, harus berjalan melewati lobi dan seluncuran raksasa yang bentuknya persis dengan foto yang saya lihat di website (ya iya laaah). Meskipun seluncuran itu sangat menggoda dan menantang, saya tidak berani bawa anak-anak ke sana karena Little A belum bisa berenang dan tidak membawa pelampung. Kami berjalan melewati pantai pasir buatan, tempat sekelompok anak-anak yang kebanyakan berambut pirang berlomba balap karung. Sepertinya ini aktivitas Kids Club. Sebenarnya The Precils otomatis sudah terdaftar di Kids Club. Tapi kami tidak sempat menggunakan fasilitas ini karena mereka maunya berenang saja. Padahal kalau the precils bisa dititipkan ke club yang diasuh para profesional ini kan Emak dan Si Ayah bisa pacaran... #abaikan.

Saya intip di website mereka, untuk mendaftar ke Kids Club ini harganya Rp 250.000, cukup dibayar sekali dan berlaku selama menginap. Tapi kalau booking lewat website resmi, ada diskonnya kok. Harga ini termasuk minum, makan siang gratis, gift pack dan seluruh aktivitas. Cocok banget untuk yang ortunya punya acara sendiri ;)

Puas nonton precil-precil bule jatuh bangun lomba balap karung, kami melipir ke Kids Pool yang ada di pojokan. Kami berpapasan dengan pelayan restoran yang mengantarkan minuman, meluncur dengan in-line skate. Wuih, ide yang bagus, biar pelayanannya lebih cepat. Asyiknya berlibur ketika orang-orang lain masih di kantor, kami tidak perlu rebutan bangku di pinggir kolam. Suasana cukup sepi, hanya ada beberapa keluarga yang main di Kids Pool yang kedalamannya cuma 30 centimeter ini. Little A dan Big A senang banget main di sini. Awalnya Little A masih takut karena ada ember yang memuntahkan air sewaktu-waktu. Tapi lama-lama dia tidak takut lagi dan asyik balapan seluncur dengan kakaknya. Saya cuma menjaga mereka dari tepi kolam, tidak ikut nyemplung.

Puas bermain air, kami menuju pantai Kuta yang letaknya persis di depan hotel, sambil berharap-harap cemas karena mendung tetap menggantung di langit. Benar saja, kami tidak bisa menyaksikan sunset warna-warni. Setelah langit gelap, kami pulang kembali ke hotel dengan pasir yang lengket di kaki. Yang saya sayangkan, saya tidak menemukan pancuran untuk bilas di sekitar pantai. Di depan hotel pun tidak ada, entah mereka punya atau tidak. Rasanya tidak nyaman berjalan di selasar hotel masih dengan pasir yang menempel. Tidak enak sendiri berpapasan dengan staf hotel yang tetap tersenyum dan menyapa ramah pada kami yang meninggalkan jejak pasir di selasar hotel.


Kids Pool
Ready, Set, Go!
Setelah mandi dengan air hangat dari pancuran besar, rasanya nyaman sekali. Saya suka aroma shampo dan sabun dari hotel ini: jasmine & orange. Terutama suka sama sabun glycerinnya untuk cuci muka (iya, yang ini saya colong). Malam itu ada orang yang mengantar gift pack untuk Little A dan Big A, mungkin karena mereka tidak jadi ikut kegiatan Kids Club. Isinya tas serut, boneka teddy bear dan pin. Boneka teddy ini sebenarnya dijual untuk amal, kerjasama kampanye Yoko Ono untuk memerangi kelaparan pada anak-anak miskin di seluruh dunia. Sementara pin pinky keren yang diberikan untuk kami dari kampanye melawan breast cancer. Saya tersenyum mendapati tulisan di tas serut: "Stolen from Hard Rock Hotel, Bali". Hakdush!

Selesai mandi, saya berniat menukarkan welcome drink di CenterStage. Ketika cek in, banyak sekali voucher yang diberikan: diskon spa, Hard Rock Cafe, souvenir di toko, dan gratis foto di gitar Hard Rock depan hotel. Duh, yang terakhir ini pun kami tidak sempat karena hari keburu gelap. Ternyata welcome drink juga sudah tidak berlaku lagi pada malam hari. Tapi di CenterStage, yang sebenarnya lobi hotel, kami bertemu dengan Fandy dan Wangi dari Hard Rock. Kami ditraktir jus yang seger banget sambil ngobrol-ngobrol tentang hotel yang pertama kali didirikan oleh Hard Rock di Asia ini. Kata Fandy, mereka memang sedang giat mempromosikan hotel ini sebagai hotel ramah keluarga. Selama ini brand Hard Rock populernya di kalangan anak-anak muda atau yang berjiwa muda. Padahal mereka juga cater untuk keluarga dengan anak-anak. Kalau menurutku sih hotel yang family friendly itu jelas kelihatan dari fasilitas-fasilitas yang diberikan. Kalau sampai ada kolam renang untuk anak, Kids Club, menu makan khusus anak, sampai ada Kids Suite, pasti hotel ini cocok untuk anak-anak. Kata Fandy, kebanyakan tamu mereka yang keluarga berasal dari Australia, sebelas dua belas sama keluarga-keluarga di Indonesia. Baru selanjutnya keluarga dari Malaysia dan Singapura.

Fandy dan Wangi juga memamerkan fasilitas-fasilitas yang mereka punya. Duh, memang tanggung banget kalau cuma menginap semalam di sini. Apalagi besoknya saya harus cek out pagi-pagi. Saya belum merasakan spa, lihat-lihat toko merchandise-nya, main catur raksasa (pura-pura), nongkrong di cafe, mencoba rock climbing (belum tentu bisa, tapi kan harus dicoba), dll. Bahkan kami tidak akan merasakan menu sarapan hotel karena kami minta sarapan kami dibungkus untuk dimakan di bandara. Dan... saya baru ingat, belum sempat mencoba gelato yang katanya enak banget, direkomendasikan oleh teman-teman yang pernah menginap di sini.

Sebetulnya, dari semua cerita tadi, yang paling mengesankan ketika kami menginap di Hard Rock Hotel ini adalah pelayanan yang ramah, tulus dan sigap membantu dari semua staf. Semua bisa membangun hotel dengan fasilitas yang paling mewah, tapi tidak semua hotel bisa membuat seluruh stafnya merasa memiliki, sehingga membuat mereka tulus pada setiap tamu yang datang. Pelayanan seperti ini yang kami rasakan sejak pertama kali kami menitipkan tas di depan hotel, seluruh staf sepertinya menjadi owner dari hotel ini, bertanggung jawab untuk membuat tamu-tamunya betah dan ingin kembali lagi. Kami dilayani dengan baik ketika reservasi, diantar oleh petugas yang sigap membawakan ransel kami. Ketika Big A bingung dengan setting PS3-nya, ada petugas yang siap datang ke kamar untuk mengecek. Kami bertemu staf yang tetap ramah menyapa kami ketika kaki-kaki kami yang berlepotan pasir mengotori selasar. Kami bertemu Fandy dan Wangi yang menemani kami minum di centerstage. Pagi harinya, jam lima, sudah ada staf yang mengantarkan kotak-kotak sarapan kami, dengan bonus senyuman lebar. Tapi yang paling membuat kami terharu adalah staf yang dengan sigap dan tanpa diminta membantu kami mencari taksi pagi-pagi, dan meminta maaf karena kami harus berjalan ke depan hotel karena jalan masuk untuk mobil sedang diperbaiki. Staf ini membawakan ransel saya dan memastikan kami masuk ke dalam taksi yang akan mengantar kami ke bandara.

Tidak heran kalau Little A mengalami post holiday sydndrome setelah kami kembali ke Surabaya. Dia sangat ingin kembali ke hotel ini lagi. Dia bilang kalau Hard Rock Hotel adalah 'the bestest hotel ever'. Bahkan tadi, ketika saya memasang foto-foto untuk ilustrasi blog ini, Little A masih saja bertanya, "When will we go back to Hard Rock Hotel, Mommy? Next week, okay?"

~ The Emak

Baca Selengkapnya...

Quick Bali with Kids

Senja yang mendung di Kuta
Kami sudah sering selalu transit di Bali setiap kali melakukan perjalanan dari Indonesia - Australia atau sebaliknya, tapi rasanya belum pernah mengunjungi Bali dengan 'baik dan benar'. Trip kali ini pun sekedar kabur sebentar, menginap dua malam di Bali.

Sebenarnya ini liburan spontan, tanpa rencana. Tahun lalu, ketika kami masih tinggal di Sydney, dan koneksi internet masih 10x lipat lebih cepat daripada di sini, saya berhasil mendapatkan tiket 'gratis' Air Asia untuk Surabaya - Bali seharga Rp 5000 per orang. Saya beli saja waktu itu tanpa berpikir, kalau pun nanti tidak jadi kami pakai juga tidak rugi-rugi amat, total tiket berempat pp cuma 40 ribu :D

Jadwal penerbangan kami: berangkat Minggu siang dan pulang Selasa pagi. Jadi kami cuma punya waktu satu setengah hari efektif untuk main-main di Bali. Karena tidak punya waktu banyak, saya putuskan untuk tinggal dekat dengan bandara dan rencananya memang cuma pengen leyeh-leyeh di hotel saja. Tak disangka, salah satu teman menawarkan untuk menginap di Vila barunya di daerah Canggu. Wah, rezeki nggak boleh ditolak kan? Lumayan, sponsor liburan kami bertambah: Air Asia dan teman pemilik Vila. #okesip

Saatnya #pengakuan: kami belum pernah naik Air Asia! Untuk pesawat murah domestik Australia kami mengandalkan Jetstar. Dilihat dari interiornya, kursi Air Asia ini mirip dengan Jetstar. Hampir tidak ada bedanya. Empat hari sebelum berangkat, saya sudah melakukan web check in dan mencetak sendiri boarding pass, jadi cepat banget waktu cek in di counter. Kami juga tidak membawa checked baggage, tas untuk dimasukkan bagasi. Cuma bawa ransel masing-masing udah cukup kok. (Alasan utama adalah malas beli biaya tambahan untuk bagasi :p) Ternyata memang lebih asyik traveling tanpa bawa bagasi :)

Karena skip ketika ada tawaran memilih kursi, saya sedikit khawatir tidak mendapatkan kursi berdampingan, kan repot kalau saya dan anak-anak duduknya terpencar. Tapi ternyata bisa diakali. Kalau tidak ingin membeli kursi, usahakan web check in awal. Komputer akan memberikan nomor kursi secara otomatis. Biasanya sih kalau beli tiketnya bareng bisa dapat kursi bersebelahan. Kalau kursinya terpencar, baru 'terpaksa' menggunakan pilihan untuk ganti kursi. Berangkatnya saya duduk bertiga dengan Little A dan Big A, sementara Si Ayah duduk sendiri di depan kami. Pulangnya kami duduk terpencar dua-dua, selisih dua baris. Saya dengan Little A dan Si Ayah dengan Big A. Penerbangan dengan Air Asia kali ini lumayan mulus, pilotnya jago kok. Dari SUB - DPS tidak ada penjualan makanan di pesawat, mungkin tidak ada yang pesan? Sementara di penerbangan sebaliknya jual makanan. Big A tampak senang dan motret-motret dengan kamera sakunya. Saya senang karena ini salah satu tanda kalau dia tidak bosan. Penerbangan cuma berlangsung 50 menit. Belum sempat 'mabuk', kami sudah disuruh siap-siap mendarat lagi :))

Kami tiba di bandara Ngurah Rai jam dua siang. Teman kami dan sopirnya sudah siap menjemput. Perjalanan dari bandara ke Canggu penuh horor, melewati jalan-jalan kecil yang kalau untuk berpapasan mobil, bisa cuma selisih satu senti. Untung sopir kami jago banget, meliuk-liuk dengan luwes di antara pengemudi Bali yang... tidak pakai aturan. Saya yang baru bulan Juni tahun lalu ke Bali tidak begitu kaget. Si Ayah yang terkaget-kaget melihat perkembangan Bali sejak dia tinggalkan empat tahun yang lalu. Memasuki daerah Petitenget menuju Canggu, sawah-sawah sudah berubah menjadi Vila. Kata teman saya, vila-vila ini 'dimiliki' warga negara asing, meskipun mereka sebenarnya dilarang punya properti di Indonesia, tapi ada aja caranya. Saya bertanya-tanya, kalau sawahnya habis, terus pemandangannya apa ya?

Mendekati Canggu, semakin banyak terlihat penjor yang daunnya mulai layu, terpasang di depan rumah-rumah penduduk, dihiasi sajen-sajen cantik. Payung dengan 'ekor' warna-warni melambai di tepi pematang. Masih terasa aroma hari raya Galungan dan Kuningan. Di satu ruas jalan kami harus memutar melalui gang kecil karena jalan ditutup untuk upacara. Teman kami bilang: "Yang pengen cepat-cepat ke bandara pasti nangis kalau ketemu upacara di sini." ^_^

Canggu adalah daerah di antara Kuta dan Tanah Lot. Pantai-pantai yang ada di sini antara lain: Berawa dan Echo beach yang ombaknya terkenal bagus untuk berselancar. Kami sempat melipir ke pantai Berawa di depan hotel Legong Keraton, tapi the precils tidak mau turun. Ya sudah, kami langsung ke vila yang kira-kira dua kilometer dari pantai.


Little A dan The Emak di kabin Air Asia
Foto oleh Big A. Canon Powershot S 95
Vila teman kami ada di tengah sawah yang hijau. Begitu masuk, kami langsung kesengsem sama kolam renangnya. Meskipun kecil, kolam ini cukup asyik untuk berenang. Karena tidak perlu berbagi dengan orang lain, serasa punya kolam renang pribadi. Lucu juga berenang sambil melihat hamparan sawah menghijau, ayam dan bebek yang mencari makan dan petani yang sibuk bekerja. Kalau untuk bule yang jarang-jarang lihat tanaman padi pasti eksotis sekali :)

Villa compound ini punya 3 vila: 1 vila dengan dua kamar tidur dan 2 vila masing-masing satu kamar tidur. Satu vila dihuni sendiri oleh teman kami dan istrinya yang sangat ramah menyambut kedatangan kami. Teman kami yang baik ini menyilakan kami menggunakan vila dengan dua kamar tidur. Wah, pengalaman menginap di vila ini asyik sekali. Nanti saya tulis tersendiri ya... Kami menutup hari dengan makan malam ikan bakar yang dibeli dari pasar ikan Jimbaran.

Budget Hari Pertama
Taksi ke bandara Rp 45.000
Tiket pesawat AA SUB-DPS, 4x 5000 = Rp 20.000
Pajak bandara 4x 40.000 = Rp 160.000
Roti Boy Rp 51.000
Total Hari Pertama = 276.000

Kolam renang di Vila Adem Ayem, Canggu
Big A ngelamun di bale bengong
Vila kami letaknya lumayan tersembunyi dari jalan besar, jadi suasananya tenang sekali, cocok untuk yang pengen menyepi. Paginya kami sarapan masakan rumahan yang dimasak sendiri oleh istri teman. Ngopi, sarapan sambil ngobrol di bale bengong pinggir kolam, rasanya tidak pengen pulang! Big A juga asyik ngelamun sambil kakinya kecipak-kecipuk di air kolam. Tenang dan damai. Saya ngobrol ngalor ngidul dengan istri teman yang sudah lama tinggal di Bali. Obrolannya mulai dari pergeseran gaya hidup anak-anak muda di sini yang menurutnya sudah seperti orang bule, sampai pemberantasan anjing-anjing liar di Bali dengan ditembak karena rabies. Jam 11.30 siang kami baru siap menuju Kuta. Hitungannya late check out ya kalau di hotel.

Perjalanan dari Canggu ke Kuta lebih horor lagi daripada kedatangan kami dari bandara. Di tengah jalan kami berpapasan dengan macam-macam tingkah manusia. Ada yang menaruh pasir bangunan sampai menutup setengah jalan, ada yang memarkir mobil besarnya sampai mengambil satu lajur, dan tentu saja banyak sepeda motor di kiri kanan yang melesat cepat, seolah pengemudinya punya nyawa dobel. Di Canggu, beberapa perempatan penting dan ramai tidak ada lampu lalu lintasnya. Kata sopir kami percuma saja, banyak yang tidak menaati. Jadi masyarakat sini mengatur dirinya sendiri. Ya sudah, kami menikmati saja sirkus jalan raya ini. Tipsnya: jangan nyetir sendiri di Bali, serahkan pada ahlinya.

Selanjutnya kami melewati jalan yang lebih lebar di Seminyak. Di kanan-kiri jalan banyak berdiri butik-butik kecil dan kafe-kafe lucu. Saya jadi teringat suburb-suburb di Australia yang suasananya seperti ini. Terutama di Byron Bay. Bule-bule yang berseliweran menambah suasana mirip kampung di Australia. Sepertinya Bali ini sudah diangkat menjadi kampung halaman kedua mereka. Sama mengamati beberapa bule sudah mahir mengendarai sepeda motor seperti orang lokal. Yang saya lihat, banyak yang memodifikasi sepeda motor mereka dengan besi pengait di samping. Tadinya Si Ayah mengira untuk membawa galon air mineral, hehe. Ternyata untuk membawa surf board. Saya cuma bisa tersenyum melihat seorang Ayah Bule yang melesat kencang dengan sepeda motor tanpa helm, membawa anak balitanya yang berdiri di depan. Indonesia banget! Kalau di negaranya sana, mana berani melakukan seperti itu. Membawa anak-anak di dalam mobil yang 'aman' saja harus 'diikat' di car seat. Mana istilah yang tepat: Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya atau Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung? Tanda bahwa akulturasi budaya sudah berhasil? :)

Ruas jalan yang paling ramah pejalan kaki menurut saya adalah Jalan Legian. Jalan sempit satu arah ini ditutup dengan paving, bukan aspal, sehingga kendaraan bermotor lebih pelan ketika lewat. Di sepanjang jalan ada toko-toko kecil, semua ada di sini: fashion, art, cafe. Saya juga mengeja deretan hotel-hotel yang kami lalui, yang namanya sudah saya hafal luar kepala saking seringnya mengintip Hotels Combined :D Sopir kami melambat ketika kami melewati Ground Zero, Monumen Bom Bali. Sopir bertanya apa kami mau berhenti dan singgah sejenak? Saya menggeleng, terlalu sedih bahkan untuk mengingatnya. Di pantai-pantai Sydney (Coogee, Bronte, Malabar, Maroubra dll) didirikan monumen kecil untuk mengenang warga lokal korban bom Bali. Biasanya setelah bermain di pantai, kami menghampiri monumen-monumen kecil ini sejenak, menatap bunga yang kadang diletakkan di sana, sambil mengeja nama-nama orang yang nyawanya diambil oleh pembunuh dari negeri kami.

Kami mampir sebentar untuk menitipkan tas di Hotel Hard Rock, dan diturunkan sopir di Mal yang terhitung baru: Beachwalk. Mal ini cukup asyik, konsepnya terbuka dan enak dibuat jalan-jalan. Karena kami ke sana hari Senin, Mal tidak ramai. Kami cuma belanja sebentar di Roxy dan langsung keluar lagi. Tadinya mau makan siang di sini. Tapi harga makanannya bikin niat kami menciut. Resto-resto yang buka di sini kelas menengah ke atas, dengan paket makan siang sekitar 125K - 150K per orang. Benar-benar harga Aussie, sayangnya dolar kami sudah habis.

Vending Machine sandal Havaianas
Mal baru, BeachWalk
Hore, ada trotoar!
Si busur kuning menyelamatkan kami dari kelaparan. Kenyang, kami jalan kaki ke hotel, sekitar 300 m dari Mal. Saya senang karena ada trotoar yang berfungsi sepanjang jalan. Trotoar ini mulus, nggak bolong, nyambung dan tidak dikuasai pedagang kaki lima (penting!). Kalau di sepanjang jalan dibuat trotoar seperti ini, kami tidak akan keberatan jalan kaki. 

Cek in di Hotel Hard Rock, kami disambut dengan kejutan yang menyenangkan: kamar kami di-upgrade jadi Kids Suite! Yay! Rupanya Hard Rock juga pengen menjadi co sponsor liburan kami, hehe. Big A tak bisa berhenti tersenyum, karena menginap di kamar Kids Suite ini sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Hanya saja Emaknya baru sanggup untuk booking kamar biasa.

Kami sangat terkesan menginap di Hard Rock. Tadinya saya pilih hotel ini karena review yang bagus di Trip Advisor. Juga karena sesuai kriteria saya: dekat dengan bandara, pantai, dan ada kolam renang untuk anak-anak. Harganya pun masuk akal, satu kamar bisa untuk dua dewasa dan dua anak tanpa perlu extra bed. Review hotel selengkapnya akan saya tulis di postingan tersendiri ya.


Little A loooove her special room
Kids pool at Hard Rock hotel
Mengintip upacara
Selesai main-main air di kolam renang, kami melihat sunset di Pantai Kuta, yang tinggal menyeberang jalan dari hotel. Big A tidak ikut karena ingin mencoba PS3 yang disediakan di Kids Suite. Pantai Kuta sekarang lumayan rapi, lebih sedikit sampah, dan tidak terlalu ramai (mungkin karena hari Senin?). Pedagang yang berjualan di sana pun tidak terlalu mengganggu. Mereka punya kartu identitas dan mestinya sudah di-training cara berdagang yang tidak mengganggu. Little A gembira banget ketika Si Ayah setuju membelikannya kalung dan gelang dari pedangan asongan.

Sayangnya cuaca mendung, jadi kami gagal menikmati sunset yang berwarna di pantai Kuta. Saya dan Little A asyik bermain pasir, membuat sumur dan benteng untuk menghindari ombak. Sementara Si Ayah sibuk memotret orang-orang yang sibuk memotret :D Di sebelah-sebelah kami menggelar sarung Bali, banyak turis mancanegara. Dari obrolan mereka, saya tahu mereka dari Malaysia, Cina, Jepang, Amerika Latin dan tentu saja Australia.


penjaja di Kuta, pakai ID card
Little A pamer gelang dan kalung barunya :)
Little A cukup puas bermain di pantai. Sayangnya saya tidak menemukan tempat bilas di dekat pantai, seperti fasilitas standar di pantai-pantai di Australia. Mungkin disediakan, tapi saya tidak bisa menemukan karena hari sudah gelap. Kami kembali ke hotel dengan pasir yang menempel di kaki.  

Budget Hari Kedua
Tips Sopir Rp 100.000
Roxy rash vest Rp 345.000
Mc Donald  Rp 123.000
KFC Rp 117.000
Hotel Hard Rock Rp 1.204.764
Sandal 2x Rp 145.200
Gelang Kalung Rp 15.000
Total hari kedua Rp 2.049.964

Little A was trying to stop the wave
Can't catch meeee.... :p
Liburan yang benar-benar singkat. Pagi harinya kami harus early check out tanpa sarapan di hotel karena mengejar flight jam 7.35. Pihak hotel sudah mengantar empat box sarapan ke kamar kami jam 5 pagi. Concierge membantu kami mencari taksi (Blue Bird) di depan hotel. Perjalanan ke bandara cukup lancar karena masih pagi sekali, cukup 15 menit. Hanya saja kami perlu berjalan kaki cukup jauh sampai ke area boarding di bandara Bali yang baru ini. Benar-benar olahraga pagi.

The Precils sudah siap-siap dengan seragam sekolahnya. Rencananya, dari bandara Juanda, kami akan langsung naik taksi ke sekolah. Big A menyeletuk gembira, "Ma, kita berangkat sekolah naik pesawat, haha." Little A yang masih mengantuk, menyambut dengan sedikit merengut, "This is too short, Mommy. I want TEN DAYS holiday." Hehehe, "Me too, Darling."

Budget Hari Ketiga
Taksi ke bandara Rp 48.000
Tiket pesawat AA DPS - SUB 4x 5000 = Rp 20.000
Pajak bandara 4x 40 = Rp 160.000
Taksi dari Juanda Rp 101.000
Total hari ketiga Rp 329.000

Grand Total = Rp 2.654.964

~ The Emak

Baca Juga:
Review Hard Rock Hotel Bali
Baca Selengkapnya...