Selamat datang teman, Kami harap bisa menikmati blog kami. Happy blogging ! .
Cek kembali jika kami sudah selesai dengan ini...
Silahkan Mengisi buku tamu untuk sekedar meninggalkan Jejak.. :)
Peluang bisnis anda

SPACE IKLAN

Space buat promosi halaman atau produk anda, minat hubungi kami..

Selengkapnya...
Title

Ibu Rumah Tangga yang Sukses

Selain Mahasiswa banyak juga loh ibu rumah tangga yang berhasil dengan mengikuti tips bisnis dari mba Dini Santi. Pasti senang bisa bantu ekonomi keluarga. Tetapi perjuangan Mba Dian ini ngga mudah awal-awalnya tp sekarang beliau sudah sukses dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

Yuk lihat cerita sukses lainnya
Title

Tentang Akper IV

Angkatan yang mempunyai Seribu Satu Kisah Sedih, Senang, Susah bersama, saat dimana bisa menangis bersama, saat dimana bisa tersenyum bersama. Mempunyai motto kita selalu beda.

Read More
sukses dan sehat

Blog ini Penggemar Berat DBC-Network

Jelas banget dbc-network udah mengubah hidup saya, jadi melek IT, Dulu muncul pertanyaan gini "Waktu habis untuk ngantor? meeting? Capek di jalan? Tidak punya modal?" Bersama Oriflame di d’BC Network, Anda bisa mulai membangun bisnis dengan segala keterbatasan diatas! TAPI jangan dulu percaya kalo belum membaca kisah suksesnya yah

Kisah Sukses Lainnya

9 Penyakit Menular dari Satwa Liar pada Manusia


Banyak penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh binatang dan satwa liar, penyakit yang mungkin dianggap biasa atau sepele tapi ternyata bisa berakibat fatal.
Berikut nama-nama 9 penyakit menular pada manusia :


1. HEPATITIS
2. TUBERCULOSA (TBC)
3. RABIES
4. CACING
5. TOXOPLASMOSIS
6. PSITACOSIS
7. SALMONELLOSIS
8. LEPTOSPIROSIS
9. HERPES

Dan berikut sedikit penjelasan dari 9 penyakit menular yang disebabkan satwa liar beserta akibatnya pada manusia :

1. Hepatitis
Di seluruh dunia diperkirakan 2 milyar manusia telah terinfeksi penyakit hepatitis. Dua juta orang meninggal tiap tahunnya atau tiap menitnya ada 4 orang meninggal akibat kasus penyakit tersebut. Kecepatan penularan penyakit hepatitis 4 kali lebih cepat dari penyakit HIV. Penularan penularan penyakit hepatitis ini melalui aliran darah, plasenta bayi bagi ibu yang mengandung serta cairan tubuh seperti sperma, vagina, dan air liur.
Orang yang terkena hepatitis :
- Hatinya akan rusak
- Perutnya tampak membesar
- Muntah
- Diare dan
- Kulit berwarna kekuningan.

Fungsi hati yang menyaring racun telah hancur oleh virus ini, akibatnya kematian mengancam penderita hepatitis.
Satwa primata (bangsa kera dan monyet) dapat menularkan penyakit hepatitis melalui gigitan atau cakaran. Hati-hati memelihara primata, karena barangkali primata itu terinveksi hepatitis dan sekali dia menggigit anda maka anda berisiko tertular hepatitis.

2. Tuberculosa (TBC)
TBC adalah penyakit yang menyebabkan kematian terbesar kedua di Indonesia.
Gejala yang ditimbulkan antara lain :
- Gangguan pernafasan seperti sesak nafas, batuk sampai berdarah
- Badan tampak kurus kering dan lemah.

Penularan penyakit ini sangat cepat karena ditularkan melalui saluran pernafasan.
Selain manusia, satwapun dapat terinfeksi dan menularkan penyakit TBC melalui kotorannya. Jika kotoran satwa yang terinveksi itu terhirup oleh manusia maka membuka peluang manusia akan terinveksi juga penyakit TBC. Penyakit Tuberculosis bersifat menahun atau berjalan kronis, sehingga gejala klinisnya baru muncul jika sudah parah.
Satwa yang punya potensi besar menularkan penyakit TBC ke manusia adalah primata, misalnya orangutan, owa dan siamang.

3. Rabies
Penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus ini dikenal juga sebagai penyakit “anjing gila”. Penyakit yang menyerang susunan syaraf pusat ini dapat ditularkan ke manusia lewat gigitan satwa.
Kasus gigitan hewan penyebar rabies adalah :
- Anjing (90%)
- Kucing (3%)
- Kera (3%) dan
- Satwa lain (1%).

Gejala yang ditimbulkan bila terinfeksi rabies pertama-tama adalah :
- Tingkah laku yang abnormal dan sangat sensitif (mudah marah)
- Kelumpuhan dan kekejangan pada anggota gerak.

Penderita akan mati karena kesulitan untuk bernafas dan menelan dalam kurun waktu 2-10 hari.

4. Cacing
Cacingan sering dianggap penyakit yang ringan, padahal penyebab kematian terbesar satwa dipelihara oleh manusia dalam kondisi buruk adalah penyakit ini. Stress dapat meningkatkan jumlah infeksi cacing dalam tubuh. Dengan ukuran yang sangat kecilyaitu 0,01-0,1 mm, sangat memudah bagi parasit menular ke semua satwa termasuk manusia.
Gejala awal yang ditimbulkan adanya infeksi cacing :
- Diare
- Badan kurus
- Kekurangan cairan (dehidrasi)
- Anemia serta badan lemas
- Kejang-kejang pada seluruh anggota gerak
- Perut membesar dan keras akibat adanya timbunan gas (kembung) merupakan tanda bahwa racun telah menyebar ke seluruh tubuh.

Bila tidak segera diobati maka kematian akan menjemput penderitanya.
Hampir semua satwa yang berpotensi menularkan penyakit cacingan, misalnya :
- primata, musang, kucing, burung nuri, kakatua,
dan lain-lain.


5. Toxoplasmosis
Penyakit ini ditakuti oleh kaum wanita karena menyebabkan kemandulan atau selalu keguguran bila mengandung. Bayi yang lahir dengan kondisi cacatpun juga dapat di sebabkan oleh penyakit ini.
Penyakit Toxoplasmosis disebarkan oleh satwa bangsa kucing, misalnya kucing hutan, harimau atau juga kucing rumahan.
Penularan kepada manusia melalui empat cara yaitu:
1. Secara tidak sengaja menelan makanan atau minuman yang telah tercemar Toxoplasama.
2. Memakan makanan yang berasal dari daging yang mengandung parasit Toxopalsma dan tidak dimasak secara sempurna/setengah matang.
3. Penularan lain adalah infeksi penyakit yang ditularkan melalui placenta bayi dalam kandungan bagi ibu yang mengandung.
4. Cara penularan terakhir adalah melalui transfusi darah.

6. Psittacosis
Walaupun belum ada laporan tentang kasus penyakit Psittacosis yang diderita oleh manusia tetapi penyakit yang disebarkan oleh burung paruh bengkok (nuri dan kakatua) ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan. Penularannya bisa lewat kotoran burung yang kemudian terhirup oleh manusia.
Gejala klinik yang ditimbulkan antara lain :
- Gangguan pernafasan mulai dari sesak nafas sampai peradangan pada saluran pernafasan
- Diare
- Tremor serta
- Kelemahan pada anggota gerak.

Kondisi akan semakin parah bila penderita dalam kondisi stress dan makanan yang kekurangan gizi.

7. Salmonellosis
Bakteri Salmonella masuk ke tubuh penderita melalui makanan atau minuman yang tercemar bakteri ini. Akibat yang ditimbulkan bila terinfeksi bakteri Salmonella adalah peradangan pada saluran pencernaan sampai rusaknya dinding usus.
Akibatnya penderita akan mengalami :
- Diare
- Sari makanan yang masuk dalam tubuh tidak dapat terserap dengan baik
- Penderita akan tampak lemah dan kurus.

Racun yang dihasilkan oleh bakteri Salmonella menyebabkan kerusakan otak, organ reproduksi wanita bahkan yang sedang hamilpun dapat mengalami keguguran.
Satwa yang bisa menularkan penyakit salmonella ini antara lain :
- primata, iguana, ular, dan burung.

8. Leptospirosis
Penyakit yang disebabkan oleh sejenis kuman ini menyerang semua jenis satwa termasuk manusia. Organ tubuh yang paling disukai oleh kuman ini tumbuh subur adalah ginjal dan organ reproduksi.
Penularan penyakit berawal dari adanya luka yang terbuka dan terkontaminasi dengan air kencing atau cairan dari organ reproduksi. Bahkan makanan atau minuman yang tercemarpun dapat menyebakan infeksi masuk dalam tubuh.
Gejala yang mudah diamati bila terinfeksi penyakit ini adalah :
- Air kencing berubah menjadi merah karena ginjal penderita mengalami perdarahan.
- Kepala akan mengalami sakit yang luar biasa
- Depresi
- Badan lemah
- Bahkan wanita hamil juga akan mengalami keguguran.

Sampai saat ini belum ada vaksin Leptospira untuk manusia, yang tersedia hanya untuk satwa. Satwa yang bisa menularkan penyakit mengerikan ini adalah :
- anjing, kucing, harimau, tikus, musang, jelarang dan tupai.


9. Herpes
Adanya pelepuhan kulit di seluruh tubuh merupakan gejala awal yang ditimbulkan bila terinfeksi virus herpes. Virus ini bisa berakibat kematian bagi bangsa primata.
Manusia dapat tertular dari gigitan atau cakaran satwa yang mengandung virus tersebut. Penderita penyakit ini akan mengalami dehidrasi akibat pelepuhan kulit dan akhirnya kematian akan menjemputnya.
Hati-hati jika memelihara primata seperti : monyet, lutung, owa, siamang, orangutan, dan lain-lain. Bisa jadi primata yang anda pelihara itu ternyata menderita herpes!.
Dengan mengetahui 9 penyakit menular dari satwa liar pada manusia diatas semoga bisa menambah pengetahuan kita tentang penyakit dan bisa menghindarinya.


Sumber :
-
http://noersigit.blogdetik.com/
- http://www.profauna.org/
http://informasicom.com/9-penyakit-menular-dari-satwa-liar-pada-manusia
http://www.google.co.id/search?q=macam-macam+penyakit+menular+yang+di+karenakan+infeksi&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a
http://syair79.files.wordpress.com/2010/07/bab-ii.doc

Baca Selengkapnya...

Gabung Bersama dbc-Network

Serasa punya kantor sendiri di rumah, belajar berbisnis dan bisa membantu orang tua untuk biaya kuliah, disana ada leader yang ramah-ramah siap membimbing dan sabar. hehe.. piece... dapat kenalan dari berbagai seluruh indonesia yang ramah-ramah itu sesuatu banget loh... 
Selain itu kita bisa dapat Artikel-artikel motivasi dari leader

Klik disini untuk baca-baca di Website Dbc-Network


Sahabat juga bisa melihat kisah-kisah sukses mereka yan bergabung di dbc-Network ini disini Baca Selengkapnya...

5 Ikan yang tidak harus di Makan

By David Zinczenko with Matt Goulding
Nov 14, 2011
On: http://health.yahoo.net

If you’re over the age of 12, you’ve probably had more than a few dearly held beliefs ruined by reality. Like when you discovered it was Mom and Dad, not Santa, who were orchestrating the magic of Christmas. Or when you spent hours watching “Kim’s Fairytale Wedding” over and over again, only to learn that keeping up with this Kardashian was a waste of time. As they say, reality bites.

Well, folks, I hate to do this to you, but . . .

Not all fish are good for you.


Last year, the USDA increased its seafood recommendation to 8 ounces per week, and that has led many to believe that all fish are equally smart choices. But some are so high in contaminants like mercury that their health benefits are outweighed by their health risks. Others are flown in from halfway around the world, but given labels that make you think they were caught fresh earlier that morning. And still others are raised in filthy, overcrowed pools and loaded up with chemicals to keep them alive. 

So let me shed light on some very rough waters. Put these fish at the top of your don't-eat list and you'll avoid most of the troubles of the world's fishing industry.

#1: ATLANTIC BLUEFIN TUNA

Why It's Bad: A recent analysis by The New York Times found that Atlantic bluefin tuna has the highest levels of mercury of any type of tuna. To top it off, bluefin tuna are severely overharvested, to the point of reaching near-extinction levels, and are considered "critically endangered" by the International Union for Conservation of Nature. Rather than trying to navigate the ever-changing recommendations for which tuna is best, consider giving it up altogether. But if you can't . . .

Eat This Instead: Opt for American or Canadian (but not imported!) albacore tuna, which is caught while it's young and doesn't contain as high levels of mercury.

YOUR NEW SHOPPING LIST! There are more than 45,000 options in the average supermarket. Some will wreck your waistline; some will shrink it. The easiest way to choose: Go ahead and put anything from our newly updated list of the 125 Best Supermarket Foods in your shopping cart—and watch the pounds melt away! (And check out Cook This, Not That! Easy & Awesome 350-Calorie Meals to save time and money!)

#2: ATLANTIC SALMON (Both Wild-caught and Farmed)

Why It's Bad: It's actually illegal to capture wild Atlantic salmon because the fish stocks are so low, and they're low, in part, because of farmed salmon. Salmon farming is very polluting: Thousands of fish are crammed into pens, which leads to the growth of diseases and parasites that require antibiotics and pesticides. Often, the fish escape and compete with native fish for food, leading to declines in native populations.

Adding to our salmon woes, the U.S. Food and Drug Administration is moving forward with approving genetically engineered salmon to be sold, unlabeled, to unsuspecting seafood lovers. That salmon would be farmed off the coast of Panama, and it's unclear how it would be labeled. Currently, all fish labeled "Atlantic salmon" come from fish farms. And, as you know if you follow me on Twitter, they're fed pellets that contain pink dye—that's how they get their color. Gross!

Eat This Instead: Opt for Wild Alaskan salmon.

#3: ATLANTIC FLATFISH

Why It's Bad: This group of fish includes flounder, sole, and halibut that are caught off the Atlantic coast. They found their way onto the list because of heavy contamination and overfishing that dates back to the 1800s. According to Food and Water Watch, populations of these fish are as low as 1 percent of what's necessary to be considered sustainable for long-term fishing.

Eat This Instead: Pacific halibut seems to be doing well, but the group also recommends replacing these fish with other mild-flavored white-fleshed fish, such as domestically farmed catfish or tilapia.


#4: IMPORTED KING CRAB


Why It's Bad: The biggest problem with imported crab is that most of it comes from Russia, where limits on fish harvests aren't strongly enforced. But this crab also suffers from something of an identity crisis: Imported king crab is often misnamed Alaskan king crab, because most people think that's the name of the crab. And supermarkets often add to the confusion by labeling imported king crab "Alaskan King Crab, Imported." But Alaskan king crab—crab that actually hails from the great state of Alaska—is a completely separate animal and is much more responsibly harvested than the imported stuff.

Eat This Instead
: When you shop for king crab, whatever the label says, ask whether it comes from Alaska or if it's imported. Approximately 70 percent of the king crab sold in the U.S. is imported, so it's important to make that distinction and go domestic.


#5 IMPORTED SHRIMP


Why It's Bad: Imported shrimp actually holds the designation of being the dirtiest of all the seafood we looked at. (For our full list, check out 12 Fish You Should Never Eat.) Problem is, 90 percent of shrimp sold in the U.S. is imported. Imported farmed shrimp comes with a whole bevy of contaminants including antibiotics, residues from chemicals used to clean pens, E. coli, mouse hair, rat hair, and pieces of insects. Yum! Part of this has to do with the fact that less than 2 percent of all imported seafood (shrimp, crab, catfish, or others) gets inspected before its sold, which is why it's that much more important to buy domestic seafood.

Eat This Instead: Domestic shrimp. Seventy percent of domestic shrimp comes from the Gulf of Mexico, which relies heavily on shrimp for economic reasons. Pink shrimp from Oregon are another good choice; the fisheries there are certified under the stringent Marine Stewardship Council guidelines.

One of the best things about the brand-new Eat This, Not That! 2012 is that it helps you find fat-fighting food no matter where you are: movie theater, coffee shop, vending machine. We've also identified the most bloating beverages in gas stations, bars, smoothie counters, and coffee shops across America. Click through the Worst Drinks in America to see what drinks are safe to sip—and which you should skip.

Additional reporting by Emily Main




   
Baca Selengkapnya...

PENGOBATAN PENDERITA KUSTA SERTA DOSIS OBAT UNTUK ANAK BERDASARKAN BERAT BADAN


Materi Ini di sampaikan pada mata kuliah kusta, Sumber dan referensi beberapa di ambil dari Kapita Selekta dan sebagian dari Dosen Mata kuliah.
File name: pengobatan kusta di Papua.doc
Jangan Lupa Explor dokument-dokument kami yang lain.



BERAT BADAN

PB

MB

Dewasa                ( > 15 tahun )
Blister Hijau
Rif : 600 mg/bulan
DDS : 100 mg/hari
Blister merah
Rif : 600 mg/bulan
Lampren : 300 mg/bulan
Lampren 50 mg/hari
DDS : 100 mg/hari
Anak                    ( 10-14 tahun)                     
Blister Biru
Rif : 450 mg/bulan
DDS: 50 mg/hari
Blister Orange
Rif : 450 mg/bulan
Lampren 150 mg/bulan
Lampren : 50 mgà 3 x seminggu
< 10 tahun ( berdasarkan berat badan )


15 - 20 kg
Rif : 150-300 mg / bulanà 225mg
DDS : 15-40 mg / harià 25 mg
Rif : 150-300 mg / bulanà225 mg
Lampren : 100 mg/ bulan
Lampren : 50 mgà 2 x seminggu.
DDS : 15-40 mg/harià 25 mg

12– 14 kg
Rif    : 120 – 210 mg/bulanà 150 mg.
DDS :  14 – 28 mg/hari à 25 mg
Rif : 120 – 210 mg / bulanà 150 mg
Lampren : 100 mg /bulan
Lampren : 50 mg/harià 2x seminggu.
DDS : 12-28 mg/harià25 mg
10 - 11 kg
Rif : 100 – 165 à150 mg/bulan
DDS : 10-22 mg/harià 1/3 tablet  a  50 mg
Rif : 110 – 165 mg/bulan
Lampren : 100 mg/bulan
Lampren : 50 mgà 1x seminggu
DDS : 10-22 mg/harià 1/3 tab
8 - 9 kg
Rif : 80 – 135 mg/bulanà100mg ( 1/3 kapsul a 300mg)
DDS : 8-18 mg/harià ¼ tablet a 50 mg
Rif : 80-135 mg/bulanà 100 mg
Lampren : 100 mg/bulan
Lampren : 50 mgà 1x seminggu
DDS : 8-18 mg/harià ¼ tablet a 50 mg






Berat Badan




PB




MB

7 kg
Rif : 70-105 mg/bulan
DDS: 7-14 mg/hari
Rif : 70-105 mg/bulan
Lampren : 100 mg/bulan
Lampren : 50 mgà 1x seminggu

DDS: 7-14 mg/hari
6 kg
Rif : 60-90 mg/bulan
DDS: 6 – 12 mg / hari
Rif : 60-90 mg/bulan
Lampren : 100 mg/bulan
Lampren : 50 mgà 1x seminggu
DDS: 6 – 12 mg / hari
≤ 5 kg
Rif : 50-75 mg/bulan
DDS : 5-10 mg/hari
Rif : 50-75 mg/bulan
Lampren : 100 mg/bulan
Lampren : 50 mgà 1x seminggu
DDS : 5-10 mg/hari

Jangan lupa konsul ke dokter di Puskesmas dulu
kemudian ke Wasor Kabupaten



CATATAN :

  1. Dosis Rifampisin untuk anak < 10tahun adalah 10-15 mg/kgBB jadi diharapkan pemberiannya  pada dosis yang aman (antara dosis minimal dan dosis maksimal ) namun untuk Rifampisin sebaiknya diambil dosis minimal. Yang tercantum ditabel adalah dosis terendah dan dosis tertinggi disesuaikan dengan kemasan yang ada (dalam bentuk kapsul 150 mg dan 300 mg).

  1. Dosis DDS adalah 1-2 mg/kg BB. Yang tercantum ditabel adalah dosis terendah sampai dosis tertinggi sehingga pada saat pemberian disesuaikan dengan kemasan yang ada  (dewasa 100 mg, anak 50 mg ) dan diberikan dalam dosis yang aman.

  1. Kemasan Lampren yang ada dalam bentuk liquid sehingga sulit untuk dibagi seperti Rifampisin & DDS. Dosis untuk anak < 10 tahun diberikan 100 mg / bulan dan 50 mg 2 x seminggu.

  1. Khusus untuk anak < 5 tahun dosis Lampren dapat diberikan  100 mg / bulan dan 50 mg 1x seminggu.


Untuk memudahkan dilapangan (pada Modul Pengobatan) :


Umur 5 – 9 tahun


Tipe PB


Rifampisin
300 mg/bln
Minum didepan petugas
Hari I
DDS
25 mg/bln
Minum didepan petugas
Hari I
DDS
25 mg/hr
Minum dirumah
Hari ke 2-28



Tipe MB


Rifampisin
300 mg/bln
Minum didepan petugas
Hari I
DDS
25 mg/bln
Minum didepan petugas
Hari I
DDS
25 mg/hr
Minum dirumah
Hari ke 2-28
Clofazimine
100 mg/bln


50 mg
Minum didepan petugas

2 x seminggu
Hari I





Baca Selengkapnya...