Selamat datang teman, Kami harap bisa menikmati blog kami. Happy blogging ! .
Cek kembali jika kami sudah selesai dengan ini...
Silahkan Mengisi buku tamu untuk sekedar meninggalkan Jejak.. :)
Peluang bisnis anda

SPACE IKLAN

Space buat promosi halaman atau produk anda, minat hubungi kami..

Selengkapnya...
Title

Ibu Rumah Tangga yang Sukses

Selain Mahasiswa banyak juga loh ibu rumah tangga yang berhasil dengan mengikuti tips bisnis dari mba Dini Santi. Pasti senang bisa bantu ekonomi keluarga. Tetapi perjuangan Mba Dian ini ngga mudah awal-awalnya tp sekarang beliau sudah sukses dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.

Yuk lihat cerita sukses lainnya
Title

Tentang Akper IV

Angkatan yang mempunyai Seribu Satu Kisah Sedih, Senang, Susah bersama, saat dimana bisa menangis bersama, saat dimana bisa tersenyum bersama. Mempunyai motto kita selalu beda.

Read More
sukses dan sehat

Blog ini Penggemar Berat DBC-Network

Jelas banget dbc-network udah mengubah hidup saya, jadi melek IT, Dulu muncul pertanyaan gini "Waktu habis untuk ngantor? meeting? Capek di jalan? Tidak punya modal?" Bersama Oriflame di d’BC Network, Anda bisa mulai membangun bisnis dengan segala keterbatasan diatas! TAPI jangan dulu percaya kalo belum membaca kisah suksesnya yah

Kisah Sukses Lainnya

perubahan nama Staf CoE menjadi Staff PAKP-HIV

Pengumuman buat teman-teman staf CoE Dinas kesehatan papua barat kalau nama sudah diganti menjadi staf PAKP-HIV ( Peningkatan Akses dan Kualitas pelayanan HIV) namanya lebih Indonesia dan Keren dah...


Baca Selengkapnya...

[Penginapan] Holiday Inn Melbourne Airport


Shuttle gratis ke bandara. Foto dari website www.ihg.com
Hotel di sebelah Melbourne Airport (Tullamarine) ini Holiday Inn ketiga yang pernah kami tinggali. Dan kami semakin jatuh cinta dengan brand ini :)

Setelah delapan malam menginap di dalam campervan yang sempit, saya ingin malam terakhir kami di Australia (hopefully bukan malam terakhir beneran) dihabiskan di atas kasur empuk berpendingin ruangan. Hotel pilihan saya adalah Holiday Inn Melbourne Airport yang hanya lima menit dari bandara dengan shuttle gratis. Bayangan saya, kami bakalan kecapekan sekali setelah 9 hari berpetualang dengan campervan, dan tidak akan banyak mengeksplorasi kota Melbourne lagi. Lagipula, pesawat kami ke Denpasar pagi, jadi lebih aman kalau menginap di dekat bandara.

Di Melbourne, kami cuma singgah sebentar ke Queen Victoria Market untuk membeli pesanan oleh-oleh dari Mama mertua dan makan siang (dan window shopping). QVM ini lebih besar dari Paddy's Market di Sydney, tapi pilihan oleh-oleh made in china nya lebih terbatas. Lebih banyak lapak non souvenir yang berjualan di QVM, mulai dari barang kerajinan, fesyen warna warni, tas, camilan, buah dan sayur, sampai bunga segar.

Ini sudah ketiga kalinya kami ke Melbourne. Yang pertama, kami mencapai Melbourne lewat bandara Avalon, kemudian naik bis 50 menit menuju kota. Kami menginap empat malam di apartemen Milano yang tinggal jalan kaki 10 menit ke pasar QVM ini. Kesempatan kedua, kami singgah semalam setelah menyeberang dari Tasmania naik feri untuk menuju New Zealand keesokan harinya. Kami menginap di Hotel Parkview di St Kilda, mencapai bandara dengan mobil sewaan yang kami pakai keliling Tasmania dan meninggalkan mobil sewaan di bandara.

Kamar dengan dua double bed, muat untuk berempat. Foto dari www.ihg.com
Saya memesan kamar ini di websitenya, dengan tarif AUD 201,99. Tidak murah karena bukan tarif diskon. Tapi memang hotel di Aussie mahal-mahal sih. Saya sudah tergabung jadi member Priority Club mereka, jadi lumayan bisa tambah poin yang nantinya bisa ditukar dengan menginap gratis. Keuntungan rewards club grup hotel ini (satu grup dengan Intercontinental dan Crowne Plaza), poinnya tidak ada expire date-nya. Saya sendiri sudah telanjur senang menginap di Holiday Inn chain sejak pertama merasakan pelayanan mereka di Darwin. Kami juga sempat menginap di Holiday Inn Bandung. Seperti biasa kami memesan kamar twin berisi dua double bed untuk berempat. Kasurnya empuk dan ada pilihan bantal empuk atau lebih keras. Sudah saya duga, Si Ayah langsung tidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Maklum lah, sudah menyetir ribuan kilometer dari Adelaide menuju Melbourne. Kami leyeh-leyeh saja di hotel ini sejak sore sampai malam, bahkan terlalu malas untuk keluar beli makan :) Saya juga sibuk re-packing koper-koper kami yang segambreng. Malamnya, semua orang tidur nyenyak.

Kami punya permainan rahasia dengan Holiday Inn, jadi jangan bilang-bilang manajemen ya. Ketika menginap bertiga di Bandung, ada satu handuk muka yang tidak sengaja terbawa kami. Handuk ini kami kembalikan ke Melbourne, tapi kami tukar dengan membawa handuk muka yang ada di sana. Nanti, handuk Melbourne akan kami tukar dengan handuk muka di hotel Holiday Inn yang akan kami tinggali selanjutnya. Mungkin Bali, Phuket, Bangkok atau Maldives. Belum tahu lah. Big A dan Little A senang sekali dengan permainan dan rahasia kecil ini, hihihi. Sst...

~ The Emak Baca Selengkapnya...

Bromo With Kids

Lanskap Bromo
Perlu waktu lima tahun dan lebih dulu berkeliling ke negeri-negeri asing sebelum akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, landscape yang agung dan megah ini adanya di belakang rumah kami.

Si Ayah menghabiskan masa remajanya di kota Malang, beberapa kali ke Bromo, dan pernah mendaki gunung Welirang dan Arjuna. Namun sejak kami menikah, belum sekali pun Si Ayah punya niatan membawa saya jalan-jalan ke Bromo, yang notabene dekat sekali dengan Malang. Ketika kami pindahan dari Australia bulan September tahun lalu, saya sedikit memaksa Si Ayah untuk mengajak saya dan anak-anak mengunjungi Bromo.

Agaknya saya sedang beruntung. Seorang teman yang rumahnya di Tumpang (30 menit ke arah utara Malang), menawarkan akan 'mengantar' kami. Kebetulan tetangganya menyewakan Hard Top dan sering mengantar turis ke Bromo. Klop lah. Saya langsung mengiyakan dan sepakat berangkat seminggu kemudian, sebelum musim hujan mulai datang.
 
Bromo bisa dicapai dari kota Probolinggo (jalur paling populer dengan jalan paling mulus), Pasuruan dan Malang. Bisa juga dari Lumajang (jalur paling tidak populer). Kalau kita ikut tur atau menyewa mobil dan sopir dari Surabaya, biasanya akan dilewatkan jalur Probolinggo ini, yang bisa dilalui oleh mobil biasa (MPV), tidak perlu 4 WD. Nanti sampai Cemoro Lawang, kita perlu menyewa Hard Top (Jeep) untuk turun ke lautan pasir. Alternatif lain adalah naik ojek atau kuda.

Kabarnya, jalur dari Malang adalah jalur yang paling bagus pemandangannya, meskipun jalannya kurang bagus (baca: tidak ada jalan aspal!). Jalur yang akan kami lewati adalah: Malang - Tumpang - Gubug Klakah - Ngadas - Jemplang - Padang Savana - Lautan Pasir - Cemoro Lawang - Penanjakan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di peta yang saya unduh dari website resmi Bromo Tengger Semeru National Park.


Peta Wisata Bromo dari website resmi BromoTenggerSemeru. Klik untuk memperbesar.
Kami bermalam di rumah teman di Tumpang dan berangkat sekitar pukul 3 dini hari. The precils yang masih tidur langsung saya angkut ke mobil. Hard top yang kami sewa bisa muat untuk empat dewasa, tiga precils plus sopir. Pak Wawan, sopir kami, menyewakan hard top ini seharga Rp 700 - 800 ribu per hari, sudah termasuk bensin. Untuk kami tentu pakai harga teman, hehe. 

Sampai GubugKlakah jalanan masih lumayan mulus. Tapi menuju desa Ngadas, jalan mulai mendaki dan mengocok perut. Little A aman-aman saja di pangkuan saya, sementara Big A berusaha melanjutkan tidurnya. Sesekali mata saya terbuka melihat bulan penuh yang mengikuti, dan ngarai yang terpampang nyata di sisi mobil kami. Sambil terkantuk, saya ingat mobil kami menyusuri jalanan sempit berbatu di desa Ngadas, yang terletak di ketinggian 2100 dpl. Konon, Ngadas ini merupakan desa tertinggi di Jawa Timur. Setelah Ngadas, kami sampai di Jemplang, persimpangan jalan menuju Bromo dan Ranupani. Di sini banyak pemuda yang menyewakan motor trail untuk dipacu mendaki gunung dan melewati lautan pasir. Jalan dari Jemplang menuju padang savana dan lautan pasir betul-betul Innalillahi, tidak mungkin dilalui oleh mobil (atau sepeda motor) biasa. Awalnya jalan ini sempit dan berbatu-batu, kemudian berganti dengan lautan pasir yang bisa membelit ban kendaraan tanpa ampun. Melewati lautan pasir, Pak Wawan semakin hati-hati menyetir. Saya membuka mata lebar-lebar melihat pegunungan menjulang yang mengepung jalan kami di sisi kiri dan kanan. Bulan masih setia mengikuti di belakang. Saya tidak sabar melihat pemandangan ini ketika matahari sudah bersinar.

Sekitar jam 4.30 kami tiba di Cemoro Lawang yang hiruk pikuk. Hard top kami merayap menuju lapangan parkir di Penanjakan, look out untuk melihat matahari terbit. The Precils survived. Tapi bau solar yang menguar dari puluhan kendaraan membuat saya ingin muntah.

Sunrise di Bromo

Cuaca bulan September cukup dingin, tapi tidak sedingin yang saya bayangkan, mungkin sekitar 15 derajat celcius. Kami cukup memakai baju dalam termal, baju biasa, kaos kaki dan jaket. Tak lupa syal dan beannie. Turun dari mobil, kami langsung disambut penjaja sarung tangan, syal dan kupluk. Sambil menahan perut yang bergejolak, saya pasang cengiran lebar agar tidak diganggu. Si Ayah membelikan sarung tangan untuk Big A. Sementara Little A baik-baik saja dengan kostum yang dia kenakan.

Barang penting yang wajib dibawa ketika mengunjungi Bromo adalah masker, yang untungnya sudah disediakan oleh teman kami. Debu di Bromo ini luar biasa banyaknya, terutama pada akhir musim kemarau. Dari tempat parkir, kami berjalan sedikit mendaki ke vantage point di Penanjakan. Sabtu pagi ini ramainya luar biasa. Menjadi tujuan wisata yang populer untuk berlibur, mungkin Bromo memang seramai ini tiap akhir pekan. Spot-spot terbaik sepertinya sudah diambil orang. Kalau kami paksakan tetap di lokasi itu, mungkin hanya akan melihat orang-orang yang saling memotret dengan kamera dan gadget mereka. Bukannya saya tidak ingin berbagi keindahan sunrise Bromo yang terkenal ini, tapi saya sangat terganggu dengan tingkah polah beberapa pengunjung yang sangat berisik. Mereka tertawa terlalu keras dan berteriak-teriak. Memporak porandakan bayangan saya akan sunrise romantis yang bisa kami nikmati dengan khusyuk. Mungkin dengan secangkir kopi yang baru diseduh. Saya menghibur diri dengan melihat ke sisi gunung Bromo, tempat bulan yang bersiap undur diri. Di bawah sana, terlihat kerlip lampu barisan kendaraan yang merayap. Lain kali, kami sebaiknya ke sini di luar akhir pekan dan musim liburan.

Diam-diam, saya bawa The Precils melipir ke tempat yang lebih sepi.

Kami menemukan tempat yang cukup lapang dan hangat untuk melihat naiknya matahari. Dalam hening, kami menyaksikan lukisan cahaya memenuhi langit, memerah dan membangunkan bunga-bunga liar di sekeliling kami.

Kami menunggu satu persatu kendaraan yang membawa para pengunjung turun ke lautan pasir. Saya mengajak The Precils untuk naik dan duduk di atap Hard Top melihat-lihat suasana, sambil makan camilan. Akhirnya hiruk pikuk usai dan kami pun meninggalkan Penanjakan. Mobil turun dan parkir di dekat Gunung Batok yang fotogenik, cantik difoto dari sudut mana saja. Di sana sudah banyak warung-warung portabel yang buka untuk melayani sarapan. Kami sendiri sudah membawa bekal nasi kotak dari rumah, menikmati sarapan di dalam mobil untuk menghindari debu yang bersliweran.

Di dekat tempat parkir kendaraan bermotor ini ada toilet umum. Sayangnya, seperti layaknya toilet umum di Indonesia, kebersihannya kurang terjaga. Di toilet duduk yang kami pakai, lantainya banjir dengan luberan air entah dari mana. Wastafel di luar toilet pun tidak bisa digunakan. Duh, ini tujuan wisata internasional tapi toiletnya standar kampung :|

Lautan pasir dilihat dari Penanjakan
One last standing
Di pelataran Gunung Batok ini Little A bisa bermain-main dengan temannya, dan tampaknya sangat menikmati suasana. Untuk anak kecil, apa yang lebih menyenangkan dari lapangan luas yang bisa untuk berlarian sepuasnya? Dan bisa naik kuda.

Banyak pemuda Tengger yang menawarkan jasa naik kuda pada kami. Mereka sopan dan tidak memaksa. Teman kami bilang, jangan terburu-buru menawar. Rupanya dia sudah punya langganan naik kuda di sini, temannya entah kenal dari mana :) Dia menelpon Woko, si pemuda Tengger ini untuk datang. Yak sodara-sodara: di gunung Bromo ada sinyal! Kita bisa narsis sepuasnya, langsung update status di Facebook, unggah foto di Instagram, unggah video di Vine, berkicau di Twitter, atau kultwit sekalian. Adakah yang lebih keren daripada kultwit dari atas punggung kuda melewati lautan pasir menuju Gunung Bromo?

Tapi kalau tidak menyimpan gadget kita yang canggih ini di dalam saku atau tas, kita bakal kehilangan banyak pesona yang terjadi di sekeliling kita. Ibu pemilik warung melayani pelanggan dengan senyum ramah, tidak berusaha mengambil keuntungan yang tidak masuk akal, meski dia berjualan di obyek wisata internasional. Penjaja suvenir kaos Bromo tetap tersenyum meski saya menolak membeli dagangannya. Sepasang kekasih berpose mesra dengan latar belakang pegunungan yang megah. Lalu setitik debu di kejauhan sana, berderap, mendekat...

Woko si pemuda Tengger datang.

Deru Debu
Bersama pemuda Tengger. Woko di sebelah kanan :)
Little A dan temannya di depan Gunung Batok
Kami kembali mendapat 'harga teman' dari Woko. Di akhir pekan, susah mendapatkan harga Rp 100 ribu untuk naik kuda. Biasanya mereka minta Rp 150 - 200 ribu. Rute pilihannya adalah mengelilingi Pura atau berhenti sampai di depan tangga menuju puncak Bromo. Saya berboncengan dengan Little A menuju puncak Bromo. Sementara Big A memilih jalan memutari Pura saja. Entah mengapa, Big A punya ketakutan terhadap volcano, gunung berapi.
 
Kata Si Ayah, landscape gunung Bromo ini sudah jauh berubah, lautan pasirnya jauh lebih tebal daripada yang dia ingat dulu. Mestinya memang letusan tahun 2010 yang mengubah landscape gunung ini. Jalan dari tempat parkir mobil menuju kawah Bromo tidak terlalu jauh, tapi dengan debu yang bersliweran dan ketebalan pasir yang membuat kaki kita bisa lesap, lebih bijaksana kalau menyewa kuda untuk sampai di depan anak tangga. Saya bersyukur duduk di atas punggung kuda, kalau tidak, mungkin tenaga saya sudah habis untuk menaiki tangga sampai di puncak Bromo.

Tadinya saya berniat menghitung jumlah anak tangga menuju puncak Bromo, apakah benar 250 seperti yang diceritakan orang-orang. Tapi apa daya, di anak tangga kesepuluh napas saya sudah mulai tersengal. Sementara Little A dengan gagah perkasa bertekad untuk naik tangga sendiri tanpa digendong. Beberapa orang lokal menawarkan jasa ojek gendong (yep, semua ada di Indonesia), tapi saya tidak rela melepaskan Little A digendong orang asing. Lagipula anaknya baik-baik saja  dan malah senang kok :)

And we made it! Kami sampai di puncak dan masih bisa berpose tersenyum untuk difoto. Saya tidak berani lama-lama di puncak karena sungguh-sungguh berbahaya. Di atas sana tidak ada pengaman yang cukup menjamin seseorang tidak terjatuh ke kawah. Tolong pegang anak anda erat-erat! Di atas, saya sempatkan mengambil satu momen hening, menghirup udara memenuhi paru-paru dan membuat catatan mental bahwa saya pernah ada di atas puncak Bromo ini. Dari atas, saya bisa melihat manusia menyemut, dan mobil-mobil yang hanya tampak seperti titik-titik debu. Di tengah semua ini, saya melihat Pura Luhur Poten, tempat sembahyang masyarakat Tengger, yang berdiri dengan kokoh namun anggun. Pura ini seperti menjembatani kekerdilan kita dan keagungan mahakarya Sang Pencipta.


Are you ready, Little A?
Di puncak Bromo
Si Ayah menggendong Little A menuruni tangga, karena jalan turun ternyata lebih berbahaya daripada jalan naik. Kami kembali ke mobil, dan Pak Wawan membawa kami ke Pasir Berbisik. Lautan pasir ini mendapatkan namanya yang sekarang karena menjadi lokasi syuting Dian Sastro di film dengan nama sama. Di lautan pasir ini, kami mendapati beberapa motor trail meraung-raung memamerkan ketangkasan mereka. Sementara di balik bebatuan, ada seorang perempuan tua berbaju pink menjaga warung portabelnya, sendirian. 

Kalau memilih jalur Malang, dari lautan pasir kita akan langsung kembali melewati padang Savana yang berisi bukit-bukit kecil yang lucu. I hate to say it, but they call it Bukit Teletabis. Ketika kami melewati bukit ini, rerumputan tampak kering, karena akhir musim kemarau. Kata teman saya, waktu terbaik untuk mengunjungi Bromo adalah di awal musim kemarau, sekitar bulan Mei. Rumput-rumput masih hijau karena masih mendapat sisa hujan, pasir sudah tidak lagi menjadi lautan lumpur dan debu masih belum terlalu tebal.

Perjalanan pulang kami lanjutkan. Dalam kantuk yang kembali menyerang, saya masih bisa mendengar Pak Wawan membunyikan klakson Hard Top bernada riang dan lucu setiap kali kami melewati tikungan tajam yang hanya cukup untuk satu mobil. Sebelum saya akhirnya memejamkan mata, saya masih sempat melihat dua orang penduduk desa Ngadas membawa babi hasil tangkapan mereka yang diikat pada tongkat panjang. Mungkin sebagai persiapan menjelang Upacara Karo. Ingatan saya kembali melayang pada pura yang saya lihat dari puncak Bromo.

Pura Luhur Poten. Difoto dari puncak Bromo
~ The Emak

Foto oleh Anindito Aditomo Baca Selengkapnya...

13 Kalimat Untuk Ibu


TAK KAN CUKUP LANGIT DAN LAUTAN JIKA HARUS MENAMPUNG KASIH SAYANG SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA.




Mungkin lelaki merajai dunia, tapi tidak ada lelaki yang bukan anak dari seorang Ibu.

Seorang petarung sakti mandra guna, tak mempan pisau dan peluru, otot kawat tulang besi, kulit seng dan muka gedek, ditakuti oleh jin dan manusia, akan menangis meratap karena cintanya ditolak wanita kecil yang diharapkannya menjadi Ibu dari anak-anaknya.

IBU ADALAH PEMIMPIN KEMANUSIAAN YANG SESUNGGUHNYA.
  



1. Saat Ibu menelpon, percayalah beliau yang selalu ingin tau hanya sedikit saja apa yang terjadi padamu. Janganlah kamu merasa risih.
 
2. Saat Ibu terdiam, percayalah hanya suaramu yang ingin beliau dengar.
 
3. Saat Ibu memarahi kamu dan Saat kita membantah ucapan Ibu, semua itu untuk mendidik kamu supaya kamu bisa menjadi diri apa yang kamu inginkan dan percayalah beliau sangat mencintaimu.
 
4. Saat Ibu berkata “Ibu baik-baik saja” percayalah ada rahasia yang tersimpan didalam hatinya, bantulah dia.
 
5. Saat kamu merebahkan kepala ke bahunya, percayalah beliau adalah sarang kehangatan yang mampu menghilangkan kedinginan.

6. Saat kamu terjatuh, percayalah kedua tangannya akan menyambutmu tak perduli pada badai sekalipun.

7. Saat kamu lapar, haus, percayalah orang yang pertama sibuk di dapur menyiapkan sgala sesuatu untukmu adalah Ibu.
 
8. Saat Ibu bilang “Rindu sekali denganmu Nak” percayalah, langit pun tak akan mampu menjadi batas rindunya kepadamu.
9. Saat Ibu berkata “tidak” untuk menunaikan sesuatu permintaan dari kamu, percayalah pada ahirnya akan kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan hingga waktunya nanti.
10. Saat kamu tersungkur akan sebuah batu, percayalah Ibumu yang akan menantang musim agar bisa meraih dan memelukmu kembali.
 11. Saat Ibu menasehati kamu, percayalah itu kata mutiara yang tak akan pernah kamu dapatkan dari orang lain <
 

12. Dan biru langit tak akan mampu menjadi pembatas sebagai tingginya rasa hormat untuknya serta pada biru laut pun tak akan mampu menampung jutaan pujian yang terharuskan untuk Ibumu
13. Saat Ibu meminta kamu menemaninya, percayalah, kamu adalah orang yang mampu membuat dia merasa nyaman kemanapun melangkah.Bahkan hingga akhir hayatnya pun Ibu ingin selalu disampingmu.

 
Sekian, silahkan baca-baca artikel lainya ya sahabat !!
 
 
 


 
 
 



Baca Selengkapnya...

[Penginapan] Novotel Sydney Olympic Park

Novotel Sydney Olympic Park
Sebagai 'penduduk musiman' di Sydney, saya kadang bingung kalau diminta rekomendasi hotel yang bagus di kota ini. Masalahnya kami tidak pernah menginap di hotel. Saya hampir lupa kalau sebenarnya kami pernah menginap semalam di Novotel Sydney Olympic Park. Dapat voucher gratisan :)

Ceritanya, di awal tahun 2010, saya ikut kuis yang diadakan Sydney Olympic Park di website-nya. Alhamdulillah menang, dan hadiahnya banyak banget, antara lain tiket VIP nonton Taylor Swift, tiket nonton International Sydney Tennis Tournament, tiket nonton kriket, voucher makan di Armory Wharf cafe, voucher sewa sepeda dan... voucher menginap semalam di Novotel SOP plus makan malam untuk sekeluarga.

Kompleks Sydney Olympic Park (SOP) ini bekas fasilitas yang digunakan untuk penyelenggaraan Olimpiade Sydney tahun 2000. Sampai sekarang, kompleks ini masih terawat dengan baik, banyak sekali acara olahraga, konser musik, bahkan layar tancap yang diadakan di sini. Selain gedung-gedung olahraga, ada juga taman Bicentennial seluas 40 hektar, dengan arena bermain dan danau yang biasanya digunakan masyarakat umum untuk main-main sepeda, lari, jogging atau jalan kaki, birdwatching, piknik, dan barbekyuan di akhir pekan.

Kami berusaha booking hotel yang tadinya digunakan untuk akomodasi atlet dan ofisial Olimpiade 2000 dengan voucher gratis sejak Januari, tapi baru dapat tanggal kosong di akhir pekan pertengahan April. Nggak papa lah, yang penting gratis! Dari rumah kami di Lakemba, hotel ini jaraknya 10 km. Kalau dari kota, jaraknya sekitar 16 kilometer ke arah barat. Kita bisa mencapai Sydney Olympic Park dengan semua moda kendaraan umum: bus, kereta dan feri. Perjalanan kira-kira 30-45 menit. Untuk tahu jalur menuju kompleks ini, klik di sini.

Hotel ini tepat di tengah kompleks Sydney Olympic Park, di depan stadion utama, bersebelahan dengan hotel Ibis. Kami datang untuk cek in seawal mungkin, jam dua siang. Pelayanan cek in biasa saja, dengan keramahan standar Novotel :) Kami diberi kamar di lantai 14 dengan pemandangan keren, bisa melihat stadion utama dari atas.

Novotel termasuk brand yang ramah anak-anak. Tiap kamar dilengkapi dengan dua double bed yang bisa digunakan untuk dua dewasa dan dua anak-anak, tanpa membayar biaya tambahan extra bed. Dekorasi kamar cukup trendi. Amenities yang diberikan sesuai standar Novotel: sabun, shampoo, shower gel, tapi tanpa sikat gigi. Sama dengan pengalaman kami menginap di Novotel Canberra tahun sebelumnya. Saya juga heran kok hotel di Aussie ini pelit banget memberi sikat gigi, hehe. Kamar mandi cukup luas dan bersih, meski tanpa bath tub. Kami leyeh-leyeh di kamar ini sampai sore. Saya bertanya-tanya, siapa ya yang menghuni kamar ini ketika Olimpiade 2000 dulu?


Dua double bed, cukup nyaman untuk berempat
Lobi, ada mainan anak2 dan mainan orang dewasa :p
Amenities standar di Novotel. Minus sikat gigi.
Hotel ini tidak mempunyai kolam renang sendiri. Sebagai gantinya, kami diberi tiket masuk ke SOP Aquatic Centre, yang juga merupakan venue untuk cabang olahraga renang di Olimpiade 2000. Aquatic Centre ini letaknya di seberang hotel, sekitar 100 m. Sore hari, kami jalan kaki ke sana. 

Aquatic Centre terbuka untuk umum, dilengkapi dengan kolam bermain anak, tempat fitnes, whirpool, sauna, taman untuk piknik dan kafe. Ada satu kolam lap besar untuk yang berenang serius, satu kolam sedang untuk belajar berenang dan main-main, dan satu kolam dangkal yang dilengkapi seluncur dan permainan air lain untuk anak-anak. Sementara itu, kolam ukuran Olympic hanya digunakan untuk pertandingan renang. Biasanya di akhir pekan, kolam ini ramai pengunjung. Kami sempat beberapa kali berenang dan bermain-main air di sini. Terletak di suburb bagian barat Sydney, kolam ini menjadi favorit bagi komunitas muslim yang tinggal di sini. Penampakan burqini (baju renang muslimah) tidak asing lagi di sini :)

Sunrise di atas stadium
View dari kamar kami di lantai 14
Swimming Pool, cuma selemparan batu dari hotel
Malamnya kami menikmati makan malam gratis di restoran hotel. Kami memesan steak saus jamur, spaghetti bolognese dan ayam dengan herb dan sayuran. Rasanya ya begitu-begitu saja, tidak istimewa. Dan sepertinya Si Ayah masih lapar karena belum makan nasi :D

Malam hari, kami dikejutkan oleh ledakan kembang api. Mengintip dari jendela, ternyata memang ada kembang api yang dinyalakan dari salah satu venue. Sepertinya ini perayaan komunitas Bangladesh yang ada di Sydney karena sore harinya kami berpapasan dengan banyak sekali orang berpakaian tradisional Bangladesh yang menuju venue tersebut. Lumayan lah dapat kejutan hiburan gratis.

Paginya kami disuguhi pemandangan sunrise di atas stadion. Langit merah jambu menyambut pagi. Kami turun dan menyempatkan diri jogging. Kapan lagi bisa numpang jogging di kompleks olimpiade, iya kan? Karena tidak mendapat sarapan gratis, kami membeli sarapan di kafe Gloria Jeans, tepat di lantai bawah hotel. Kalau suka fast food, di sebelah juga ada Mc D. Yep, resto junk food di kompleks olahraga terbesar di Sydney :p

Kolam untuk Olimpiade 2000
Having fun in the pool
Hotel Novotel Sydney Olympic Park ini bagus, nyaman dan ramah anak-anak, tapi hanya saya rekomendasikan untuk traveler yang memang ingin mengunjungi kompleks Sydney Olympic Park. Misalnya ingin ke acara Sydney Royal Easter Show, semacam pasar malam yang juga buka siang hari pada liburan paskah, atau nonton konser musik tertentu di salah satu stadion di sini. Kalau memang menginap di sini, bisa sekalian belanja-belanji ke IKEA Rhodes, 7 menit bermobil, dan Direct Factory Outlet (DFO) Homebush, 4 menit dengan mobil. Kalau tidak ingin berkunjung ke Sydney Olympic Park, lebih baik menginap di Novotel yang berada di tengah kota: Novotel Darling Harbour.

~ The Emak
Baca Selengkapnya...

10 Negara yang Membantu Rakyatnya dengan BBM Murah


Harga minyak naik turun, namun bagi negara dalam daftar ini harga BBM tetap sama untuk konsumsi domestik. Harga rendah karena mereka mempunyai cadangan yang cukup besar. Meskipun demikian tidak semua adalah negara kaya.jika di Indonesia pemerintah akan menaikkan harga BBM dengan alasan pengurangan subsidi dan lain - lain, maka inilah daftar 10 negara dunia yang membant rakyatnya dengan BBM murah:

10. United Arab Emirates

BBM: $ 0.37/liter atau Rp.4.300,-/L.
United Arab Emirates adalah sebuah negara yang menarik untuk menjadi tempat tinggal. Selain memiliki salah satu harga BBM termurah di dunia mereka juga negara terkaya nomor 4 di dunia.

9. Bahrain

BBM: $ 0.27/litre atau Rp.3.159,-/L.
Negara pulau kecil ini memiliki luas wilayah hanya 266 mil² (665 km²). Jika Anda memutuskan untuk berkendara di sekitar pulau Anda harus tahu bahwa perjalanan ini hanya sekitar 100 mil (161 km). Jadi mengapa tidak memberikan masyarakat BBM dengan harga murah? Berapa banyak BBM yang mereka perlu? Tidak ada tujuan yang berjarak jauh di pulau ini.

8. Qatar

BBM: $ 0.22/litre atau Rp.2.575,-/L
Negara terkaya kedua didunia, wajar saja untuk menjual minyak yang mahal ke luar dan bukan ke dalam negri.

7. Kuwait

BBM: $ 0.21 / liter atau Rp.2.457,-/L
Ini hampir sama seperti di Qatar! Kuwait adalah negara nomor 5 terkaya di dunia, jadi sangat masuk akal bahwa harga BBM di Kuwait sedikit lebih murah daripada di Qatar!

6. Libya

BBM: $ 0.14/Litre atau Rp.1.636,-
Libya mempunyai cadangan minyak terbesar di Afrika dan nomor 9 di dunia.

5. Arab Saudi

BBM: $ 0.12/litre atau Rp.1.404,-/L
Ketika Raja Arab Saudi Abdullah melakukan kunjungan ke luar negeri biasanya ia pergi dengan 6 pesawat - 1 untuk dirinya dan anak-anaknya dan 5 untuk teman-teman dekatnya. Setiap orang mengetahui bahwa pesawat mengkonsumsi banyak bahan bakar! Seandainya mereka menurunkan harga sedikit lagi mungkin mereka akan mampu untuk membawa pesawat pribadi ke-7 Boeing 747.

4. Iran

BBM: $ 0.11/liter atau Rp.1.287,-/L
Dengan tingkat produksi seperti sekarang diperkirakan Iran akan kehabisan minyak dalam 74 tahun. Mungkin mereka mencoba untuk menghabiskan lebih cepat dengan memberi harga sangat murah.

3. Nigeria

BBM: $ 0.10/litre atau Rp.1.170,-
Nigeria memiliki cadangan minyak 10 terbesar di dunia. Mereka juga memiliki sekitar 150 juta orang dan sejarah kekerasan. Pemerintah tidak ingin membuat rakyat marah dengan harga BBM yang tinggi.

2. Turkmenistan

BBM: $ 0.08/liter atau Rp.936,-/L
Turkmenistan adalah negara yang paling dingin dalam daftar ini. Hingga Desember 2006 dipimpin oleh presiden seumur hidup Saparmurat_Niyazov. Beberapa hal yang telah dilakukan:

* Secara resmi memberi nama bulan (12 bulan) dengan nama anggota keluarganya
* Memenagkan "pemilu demokratis" dengan 99,9% suara!
* Tutup semua perpustakaan - "Orang Turkmenistan tidak membaca buku"

1. Venezuela

BBM: $ 0,05 / liter atau Rp.585,-/L
Venezuela dipimpin oleh Presiden Hugo Chávez - cukup terkenal untuk orang-orang yang mengikuti politik internasional. Seorang sosialist. Ia melakukan hampir apapun yang ia pikir membantu rakyatnya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Tentunya dengan harga BBM yang murah, akan lebih mudah rakyat memilih dia kembali pada pemilu.
Baca Selengkapnya...